Selamat Jalan Syaikh

Dua hari lalu, menjelang petang untuk waktu Indonesia, kita dikabarkan dengan berita duka, yakni wafatnya seorang alim, Syaikh Yusuf al-Qaradhawi. Usianya yang hampir satu abad tak sepi dari kiprah luar biasa. Tentu kita kaget, mengingat belum lama dalam ingatan kalau beliau sedang menyusun suatu buku fiqih di usianya yang begitu sepuh.

Kiprah Syaikh al-Qaradhawi begitu menarik. Beliau adalah seorang alim ulama, cendekiawan, sekaligus aktivis. Bolak-balik masuk penjara pernah dilaluinya semasa aktif bersama barisan al-Ikhwan al-Muslimun di Mesir. Meski begitu, Fiqih Zakat-nya yang disebut-sebut sebagai karya terbesarnya, pernah disusunnya dalam waktu lika-liku ujian rezim dan baru selesai belasan tahun―yang awalnya ditargetkan selesai hanya beberapa tahun―pasca keadaan dan kondisi politik membaik.

Orang-orang yang biasanya kontra dengan pendapat Syaikh, mengakui bahwa Fikih Zakat-nya adalah yang terbaik, bahkan menjadikannya sebagai sumber. Di Eropa, nama Syaikh al-Qaradhawi juga tak habis-habis disebut oleh para alim dan cendekiawan Muslim di sana. Fatwa-fatwanya terbilang moderat (wasathiyah).

Saya pribadi, memegang pendapat beliau mengenai seni. Di antara pendapat ulama, pendapat Syaikh adalah yang paling memudahkan. Itulah mengapa dulu saya memperkenalkan buku yang berbicara tentang seni tersebut kepada anak-anak seni rupa agar tak menelan mentah-mentah pendapat mengenai soal keharaman menggambar, dan semacamnya. Sebagai orang seni, membaca fatwa beliau akhirnya membuat hati menjadi tenang. Fatwa tersebut bisa ditemukan di bukunya yang berjudul Halal dan Haram dalam Islam. Di cetakan terbaru yang dialihbahasakan oleh Penerbit Robbani bahkan dicantumkan dialog atau catatan ilmiah dengan Syaikh alBani yang dikenal sebagai ulama salafi. Bisa juga ditemukan dalam buku lawas yang berjudul Islam bicara Seni.

Di ranah intelektual, Fiqih Prioritas karya Syaikh al-Qaradhawi telah ramai diperbincangkan oleh cendekiawan Muslim termasuk di luar stigma kelompok yang melatarinya. Fiqh Maqashid Syariah yang ditulisnya juga sebenarnya telah meruntuhkan label bahwa beliau adalah seorang radikal. Suatu label yang disematkan oleh Amerika CS. Buku yang pernah diterbitkan oleh Mizan dengan judul Islam Jalan Tengah, juga menjadi bukti lainnya.

Secara pribadi, sebenarnya saya lupa buku beliau yang dibaca kali pertama. Kalau tak salah adalah di antara dua buku ini: Halal Haram dan Fiqh negara (daulah). Tapi, sepertinya Fiqh Daulah terlebih dahulu. Mengingat buku tersebut adalah salah satu buku mantuba (manhaj tugas baca) di organisasi pergerakan mahasiswa yang saya ikuti dulu (baca: KAMMI) yang wajib dibaca. Dalam buku tersebut, kita akan membaca betapa luwesnya pendapat beliau mengenai demokrasi, parlemen, dan seputar negara modern lainnya. Pendapat yang sekali lagi menghancurkan tuduhan teroris pada diri beliau.

Buku-buku lainnya yang telah dialihbahasakan ke (bahasa) Indonesia terbilang begitu banyak. Search saja di mbah gugel, kalau tak percaya. Dari dulu saya berusaha untuk terus mengoleksinya meski sampai sekarang belum semuanya didapat. Di buku-buku yang saya tulis, nama beliau kerapkali saya sebut. Saya menikmati buku-buku dan pemikiran beliau.

Keunikan lain dari Syaikh al-Qaradhawi ialah menguasai isu-isu kontemporer dalam ragam bidang, dari mulai sains, sosial, teknologi, sejarah, dan lain sebagainya. Itulah mengapa, pendapat-pendapatnya begitu relevan dan sesuai dengan realitas di lapangan. Tak salah, jika banyak orang secara objektif menyebutnya sebagai alim wasathi (orang berilmu dan moderat).

Ustadz Yasir Qadhi melalui laman fans pagenya menyebutkan ada 120 buku yang telah beliau lahirkan selain makalah atau tulisan-tulisan yang sebenarnya juga telah dipublish atau diterbitkan. Dan ini, jumlahnya bisa lebih banyak lagi. Di Indonesia saja, banyak makalah-makalah beliau yang telah dialihbahasakan kemudian diterbitkan menjadi buku. Misalnya buku yang berjudul Kenapa kita Islam? yang diterbitkan oleh Gema Insani Press. Buku ini adalah makalah yang disajikan kepada Muslimin Indonesia di Eropa.

Kini, kita hanya bisa mengikuti tulisan atau pemikiran beliau melalui buku-buku atau rekaman ceramah-ceramahnya. Meki terjemahan bukunya di sini begitu banyak, tetapi sebagiannya juga sudah tak terbit lagi. Jika kita ingin mencarinya, maka perlu keuletan untuk mengais-ngais di mbah gugel maupun marketplace.

Saya pribadi beruntung sekali bisa bertemu dengan pemikiran-pemikiran beliau melalui buku-bukunya. Sempat tertunda mengoleksi semua karya-karyanya, kini saya coba kembali untuk mengais-ngais mbah gugel. Tentu saja untuk menyimpan anggitan beliau yang telah dialihbahasakan.

Selamat jalan Syaikh. Selamat kembali ke haribaan Sang Pencipta. Sungguh berkah usianya yang hampir satu abad melaui tinta ilmu yang dibagikan serta aktivitasnya melalui pergerakan yang beliau emban. Dari mulai pergerakan Ikhwan hingga Persatuan Ulama Islam Sedunia (International Union of Muslim Scholars). By the way, organisasi yang disebut terakhir ini sekarang diketuai oleh orang Indonesia, yakni Dr. Habib Salim Segaf al-Jufri. Urutan ketuanya begini: Syaikh Yusuf al-Qaradhawi, Syaikh al-Raisuni, lalu Habib Salim. []

 

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *