Sedikit Pesan untuk Para Calon Pengantin

Almanak masih menunjukkan Syawal. Konon, bulan ini adalah salah satu bulan yang menjadi saksi berlangsungnya dua manusia mengikat perjanjian suci melalui pernikahan. Ketika ijab qabul terlaksana, bucin pun bermula.

Sebenarnya, saya ingin menulis tentang ini sudah agak lama. Namun, baru kesampaian sekarang. Momentumnya ya agaknya pas juga: bulan Syawal. Apa yang saya tulis berikut adalah pengalaman (baik pribadi atau melihat orang lain). Anggap saja ini tulisan yang bertutur pengalaman dari orang yang lebih dulu telah melangsungkan suatu pernikahan dan menjalani bahtera rumah tangga. Dengan begitu, saya tak punya beban besar ketika menyampaikan ini. Tentu saja dan sudah pasti bahwa apa yang akan saya uraikan sifatnya ialah subjektif.

Pertama, mengenai foto “bucin”. Setelah akad berlangsung, foto-foto pernikahan beredar. Ucapan selamat (barakallahulaka…) datang dari mana-mana. Semua itu wajar dan memang begitu adanya. Namun, hari-hari berikutnya, pekan-pekan selanjutnya, hemat saya, akan menentukan seberapa dewasa pasangan itu bersikap.

Membagikan foto-foto “mesra” di depan jagad maya adalah contohnya. Mengenai ini, saya termasuk orang yang kurang sreg. Coba renungkan, apa kalian tidak memikirkan sahabat-sahabat yang belum menikah dan mungkin masih terus melakukan ikhtiar tapi belum sampai? Apa kalian tidak paham mengenai perasaan mereka?

Ingat pesan bijak yang kira-kira isinya begini, “Sehebat apapun orang, ia akan kalah dihadapan patah hati.”

Kita perlu berhati-hati soal mengunggah foto dengan pasangan, khawatirnya akan membuat iri banyak orang dan menimbulkan sikap dengki. Selain itu, bisa juga menambah kefrustasian mereka akan proses pencarian yang tak kunjung usai bagi sebagian orang. Sekali lagi, membagikan foto bersama pasangan sebenarnya tak masalah, pesan saya hanya hati-hati.

Sudah bisa dipastikan bahwa semua unggahan di media sosial pasti sesuatu yang mencitrakan “kehebatan”. Jarang sekali ada yang mengunggah citra kepayahan, seperti menguras bak mandi, membersihkan dapur, ngiris bawang, dan segala macam tetek bengeknya.

Iri dan dengki (hasad) yang tadinya adalah persoalan hati bisa naik menjadi ‘ain. Nah, kalau sudah di posisi ini tentu berbahaya. Kata Rasulullah, ‘ain itu nyata adanya. Biasanya, pembahasan ‘ain, selain berkaitan dengan penyakit fisik juga ada hubungan dengan ruqyah. Jadi bisa kita katakan bahwa ‘ain adalah penyakit paket komplit: hati (hasad/ iri/ dengki), fisik, dan (sebagian) jin.

Lucunya lagi, kekonyolan-kekonyolan “bucin” di media sosial ini kerapkali terjadi pada orang yang dulunya disebut aktivis dakwah. Orang yang mengenyam “pendidikan” pacaran, mungkin juga terheran melihat foto dan caption unggahan mereka. Pasalnya mereka yang melakukan perbuatan maksiat saja tak sebucin itu.

Kedua, belajar mengenai psikologi pernikahan (termasuk pasangan). Dengan mengetahui mengenai psikologi pernikahan (termasuk psikologi pasangan di dalamnya), diharapkan pasangan atau calon pasangan akan lebih siap untuk menghadapi beragam konflik yang akan dan pasti akan terjadi. Setelah pekan-pekan “bucin” dan share foto “kehebatan”, biasanya konflik dan riak mulai terjadi. Jika pasangan tidak memahami psikologi pernikahan atau pasangan, maka akan berbahaya. Apalagi jika pasangan ini mempunyai karakter yang sama-sama petarung dan tidak ada yang mau mengalah. Wah, ambyar! Kata-kata “cerai”, mungkin akan sering keluar dari salah satu pasangan. Hati-hati!

Ketiga, harus tahu fikih yang berkaitan dengan hubungan intim (suami-istri). Nah, kekonyolan selanjutnya adalah masalah yang konon dianggap tabu ini. Saking tabunya, terkadang sampai sebagian Muslim (bahkan terkadang aktivis dakwah) terlalu awam mengenai hal ini. Referensi mereka justru dari film-film Barat atau tak pantas lainnya yang bisa jadi ada kaidah-kaidah yang terlewatkan atau justru berbeda di dalam Islam.

Telah banyak buku atau kitab dari para alim dan ulama yang membahas persoalan ini. Namun sayangnya, hanya sebagian kecil yang memperhatikannya. Membicarakan ini seolah-olah tabu dan aneh. Padahal, persoalan ini juga sangat berpengaruh terhadap keharmonisan rumah tangga. Kalau kalian tidak percaya, silakan buktikan. Sedangkan mengenai persoalan keturunan, ini lain lagi. Soal ini, kuasa Allah Swt.

Keempat, jangan anggap remeh soal keuangan. Ada anggapan di sebagian kita bahwa nikah dulu saja, uang mengikuti. Menurut saya pribadi, ini bualan. Pada faktanya, faktor perceraian terbesar―apalagi selama pandemi ini dan ini terjadi di kota kelahiran saya―ialah faktor ekonomi. Memang ini ada kait erat dengan mental dan psikologi pernikahan yang telah kita bahas di atas. Artinya soal keuangan bisa dibicarakan baik-baik sebenarnya.

Perlu diketahui juga bahwa menikah memang tak harus menunggu “mapan”. Tentu definisi mapan di sini dan tiap orang akan berbeda. Kalau menunggu “mapan”, kita belum tahu kapan mapan itu tiba. Bisa jadi “mapan” itu tiba setelah kita menikah atau bahkan ketika sudah tua. Tapi setidaknya, kita berpikir untuk tidak menganggap remeh soal uang di dalam pernikahan atau rumah tangga. Uang tetaplah penting, meski bukan segala-galanya.

Masih teringat dengan jelas bagaimana seorang ibu atau bapak yang kedapatan mencuri hanya karena ingin membeli susu untuk balitanya. Apa yang terjadi jika kita ada di posisi mereka?

Kelima, jangan takut untuk menghindar. Jika masing-masing pasangan tahu karakter orang tuanya, mereka harus terbuka. Jika ada karakter orang tua yang tidak pas dengan menantu, ada baiknya untuk sedikit menjauh, misalnya dengan mengontrak atau berpisah rumah. Mengingat tidak semua orang setelah menikah sudah punya rumah sendiri.

Menurut saya ini penting pake banget. Ini dilakukan untuk menghindari konflik yang jauh lebih besar, baik antara mertua dan menantu atau bahkan antar pasangan itu sendiri. Titik besar konflik ini ialah sakit batin (bahkan bisa berujung sakit fisik) atau bahkan perceraian. Adapun jika kondisi untuk berpisah rumah tidak memungkinkan (misal karena keterbatasan materi), solusi terbaik adalah sabar dan mencoba untuk “menutup telinga” terhadap penyebab kemunculan riak-riak konflik dengan orang tua atau mertua. Orang menyebutnya: tidak perlu dipikir dalam-dalam dan dimasukkan ke hati. Dan saya yakin, ini pasti berat.

Adapun jika tak ada masalah mengenai perbedaan karakter seperti telah disebutkan tadi, opsi ini (berpisah rumah) tak perlu diperhatikan dulu.

Barangkali, itu lima pesan singkat dari orang yang baru sedikit mengenyam bahtera rumah tangga. Pesan ini ditujukan bukan untuk menggurui, namun hanya untuk sedikit berbagi. Kalau tulisan ini tidak penting, bisa di skip saja. Tapi terima kasih kalian sudah membacanya. []

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *