Ramadhan dan Ingatan Pada Nabi

Ramadhan telah menunjukkan bilangan lebih dari delapan belas dan bersiap menuju akhir. Di hari yang ke tujuh belasnya, peristiwa besar pernah hadir dalam perjalanan Nabi kita, Muhammad Saw. Jika kita kaitkan dengan konteks sejarah (peradaban) Islam, tentu peristiwa itu adalah peristiwa sejarah yang begitu penting dan menentukan.

Ada nuzulul Quran. Turunnya ayat al-Quran untuk kali pertama kepada diri Nabi. Selanjutnya, ada peristiwa perang Badar yang begitu menentukan bagaimana Islam ke depannya. Itulah mengapa, jasa pahlawan perang badar begitu dahsyat.

Ingatan saya pada malam ini dan malam-malam sebelumnya adalah pada satu buku lawas yang masih tergeletak di rak. Tepatnya di atas buku-buku yang berdiri. Buku ini ditulis oleh Tariq Ramadan, seorang cucu Hasan al-Banna (pendiri gerakan al-Ikhwan al-Muslimun). Akhirnya saya buka buku ini: Biografi Intelektual-Spiritual Muhammad.

Sebaik-baik kisah teladan tentu adalah orang yang disebut oleh al-Quran, firman Allah Swt, sebagai sebaik-baik teladan, sebagai uswatun hasanah, yakni semua yang terkumpul pada diri Nabi Muhammad. Meski saya pribadi telah membaca beberapa sirah Nabi seperti karya Syaikh Said Ramadhan al-Buthy (Fiqh Sirah), lalu karya Martin Lings, serta karya Syaikh Shafiyurahman al-Mubarakfury (ar-Rahiq al-Makhtum – sepertinya saya belum menamatkan satu karya ini), tetapi saya sendiri selalu penasaran dengan beragam sirah atau buku yang membahas kehidupan Nabi dari ragam sisi. Dr. Nizar Abazhah misalnya, ia telah menulis banyak buku mengenai kehidupan Nabi, dari mulai peperangan, kehidupan di Madinah, bahkan sampai persoalan rumah tangga Nabi.

Begitu banyak sisi dan perjalanan kehidupan Nabi yang menarik untuk kita reguk. Nabi Muhammad adalah kombinasi antara diri manusia biasa plus kenabian. Jadi, dalam setiap kehidupannya, sisi manusia (secara fitrah) pada umumnya akan tetap hadir. Bedanya dengan kita, Nabi Muhammad makshum, beliau dipandu oleh Allah secara langsung. Dengan kesempurnaan itulah (manusia plus kenabian), tokoh sebesar Nabi Muhammad memang begitu layak―dan al-Quran memang sudah menyebutkannya sebagai uswatun hasanah―dinobatkan sebagai orang nomor satu di dunia. Entah bagaimana pula, posisi nomor satu ini telah ditetapkan oleh penulis (Barat), Michael H. Hart dalam 100 tokoh yang berpengaruh di dunia (dalam sejarah). Shollu ‘allan nabi.

Manusia dan kemanusiaan adalah dua sisi yang telah dan sedang (mengalami) krisis dewasa ini. Kita selaku umat Muslim telah memiliki teladan paling besar dalam sejarah manusia, yakni Nabi Muhammad. Uniknya, dari buku yang sedang saya pegang ini (maksudnya karya Tariq), Tariq Ramadan menuliskan buku (Sirah)-nya ditujukan kepada semua orang, baik Muslim maupun non-Muslim. Wajar sebenarnya, mengingat Tariq Ramadan hidup sebagai akademisi di Perancis (Barat). Keteladanan Nabi Muhammad yang bisa menyelesaikan krisis kemanusiaan dan bahkan menentukan roda peradaban di generasi setelahnya sedang dibawa dan dikenalkan Tariq kepada dunia (khususnya Barat). Tentu kita tahu bahwa Barat adalah sumber awal dari revolusi Industri dan segenap krisis kemanusiaan yang menerpa belahan bumi lainnya.

Akhirnya saya tutup tulisan ringkas ini dengan membaca sholawat: Allahumma Sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad. []

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *