Perkara Aku

Apakah aku sudah mulai pudar mengenali diriku sendiri, atau bahkan sebenarnya aku belum kenal sama sekali. Menjelang tahun yang baru tulisan ini sebagai salah satu bahan muhasabahku. Betapa banyak keliru yang berulang aku lakukan. Sudah berapa kali penyesalan dan kecewa kubuat sendiri. Sudah berapa banyak orang terluka karena polah tingkahku. Mohon maaf lahir dan batin, lahir dan batin.

Bulan-bulan terakhir ini aku senang menghargai pencapaian-pencapaian kecilku, mulai dari mencuci alat makan sehabis menggunakannya menyelesaikan bacaan sampai terlibat dalam beberap projek walaupun sumbangsihku tidak seberapa, tapi aku senang melihat diriku yang seperti itu.

Aku senang melihat hal-hal kecil yang mungkin tidak banyak orang pandang. Aku belajar sedikit demi sedikit untuk lebih fokus pada apa yang bisa kukendalikan. Benar, yang bisa kukendalikan. Untuk hal-hal diluar kendaliku akan kubiarkan berlengak-lengok seinginnya. Aku sering tersenyum tipis sambil menghela nafas panjang entah, itu membuatku tenang. Diikuti dengan kalimat semuanya akan baik-baik saja, yakinlah karena kita akan lebih dekat dengan apa yang kita yakini. Begitu seterusnya sampai diwaktu aku ini kenapa?

Aku menikmati apapun yang terjadi bahagia sedih ragu kecewa haru dan semuanya. Aku siap menerima segala keajaiban yang sedang dan akan datang. Tetapi aku kadang mati kutu kejadian yang terjadi berulang dan aku sudah habis energi untuk menikmatinya.

Kata seorang teman kita pasti akan tiba difase kehabisan energi untuk merespon semuanya, rasanya akan menguras banyak energi menjelaskan satu-persatu dan berulang. olehkarena itu pilih yang penting menurutmu, pilih yang bisa kamu kendalikan 365hari dalam setahun akan kurang jika hanya untuk memikirkan sesuatu yang jelas kendalinya bukan pada kita. Fokus

Aku rasa kita butuh mengevaluasi diri habis-habisan menanyakan apakah kekecewaan keliru kesedihan itu akan diulang lagi ditahun depan. Buat skala prioritas apa yang seharusnya dilakukan, layaknya sebuah buku semuanya baik tetapi tidak semuanya bisa kita baca karena waktu tidak akan cukup.

-Veti S

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *