Oleh: Azi Wansaka/azionesaka@gmail.com
A. Periode Kekosongan Haji
Rasanya tak afdol jika mengulas sejarah perjalanan haji, tapi tak mengulik lebih jauh periode kekosongan perjalanan haji pasca Kemerdekaan Indonesia. Meskipun bagi sebagai orang periode ini hanya diisi dengan konflik antara Belanda dan Indonesia, namun di sela kajian sejarahnya perjalanan haji masih tetap dilakukan.
Pasca Kemerdekaan Indonesia, memang tidak serta-merta Indonesia kemudian terbebas dari penjajahan Belanda. Berdasarkan kesepakatan pemenang Perang Dunia II, bahwa negara yang kalah perang wajib mengembalikkan wilayah-wilayah yang dirampasnya.
Dalam hal ini Indonesia yang notabenenya merupakan wilayah bekas kekuasaan Belanda selayaknya kembali ke tangan Belanda. namun, bagi Bangsa Indonesia Belanda tidak berhak untuk kembali ke tanah air. Karena, bagi Bangsa Indonesia wilayah yang mereka perjuangkan didapat atas dasar perjuangan mereka sendiri, tanpa bantuan Jepang.
Perbedaan pendapat ini kemudian melahirkan konflik berkepanjangan selama tahun 1945-1949. Beberapa ahli menyebut periode ini dengan sebutan revolusi fisik, yaitu suatu periode konflik antara Pemerintahan Indonesia yang baru berdiri dengan Belanda yang ingin menjajah kembali.
Banyaknya konflik yang terjadi pada tahun-tahun tersebut membuat perjalan haji terasa mustahil. Ditambah Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh K.H. Hasyim Asyhari sukses membuat umat muslim di perkotaan hingga pelosok teguh dalam mempertahankan Kemerdekaan Indonesia.
Adapun perjalanan haji yang dilakukan biasanya bersifat politis dan diplomatis saja. Perjalanan haji tersebutlah yang dikenal dengan sebutan Missi Haji I dan Missi Haji II. Tujuan dari Missi Haji tentu saja dalam rangka menarik simpati negara-negara luar terutama Timur Tengah.
Tentu saja, negara-negara di Timur Tengah akan menjadi penyumbang terbesar bagi dukungan Indonesia menjadi negara merdeka. Persamaan latar belakang dan ikatan keagamaan yang kuat menjadi beberapa faktor mengapa negara-negara Timur Tengah menjadi sasaran diplomasi.
B. Perang Diplomasi
Perang antara Indonesia dan Belanda sebenarnya tidak lengkap jika hanya dilihat dari sisi militer saja. Dalam kajian diplomasi Indonesia perjalanan haji pernah menjadi salah satu cara diplomasi Indonesia ke negara-negara Timur Tengah.
Missi ini dikenal dengan sebutan Missi Haji I dan Missi Haji II. Kedua Missi perjalanan haji ini merupakan salah satu respon terhadap berbagai kebijakan Pemerintahan Belanda yang memblokade wilayah Indonesia.
Belanda tidak hanya berusaha memblokade wilayah Indonesia, namun juga berusaha menarik simpati masyarakat waktu itu dengan mengadakan perjalanan haji tersendiri. Perjalanan haji tersebut kelak dikenal dengan sebutan Haji Belanda.
Tampaknya pengaruh Resolusi Jihad masih mengakar kuat di masyarakat. Sehingga dalam periode-periode perjalanan perjalanan haji Belanda tidak menemui hasil yang bagus. Terkecuali untuk wilayah-wilayah yang memang dikuasi secara penuh oleh Belanda.
Namun, rupaya kerinduan masyarakat terhadap haji memang sulit untuk dibendung dan akhirnya banyak pula yang tergoda untuk bergabung dengan perjalanan haji milik Belanda. di sisi yang lain perjalanan haji yang dilakukan Belanda menyentuh masayrakat hingga pelosok-pelosok sehingga akhirnya banyak yang tergoda untuk ikut.
Melihat gelagat Pemerintahan Belanda, akhirnya Pemerintahan Indonesia mengambil respon untuk melakukan upaya menarik simpati negara-negara Timur Tengah melalui Misi Haji I dan II. Pada misi Haji I dapat dikatakan tidak menemui hasil yang memuaskan, namun pada Missi Haji II dapat dikatakan sesuai dengan tujuan awal.
Perang diplomasi haji ternyata tidak hanya dilakukan oleh Indonesia, melainkan oleh Belanda juga. Namun, berkat kegigihan mahasiswa Indonesia yang berada di timur tengah diplomasi-diplomasi haji Belanda ini tidak menemukan hasil yang memuaskan.
C. Perebutan Pengaruh di Wilayah-Wilayah Indonesia
Periode tahun 1945-1949 dapat dikatakan periode-periode yang sulit bagi Bangsa Indonesia. Tidak hanya karena harus menghadapi konflik dengan Belanda namun juga harus menghadapi konflik dengan bangsa sendiri.
Perebutan-perebutan pengaruh di Indonesia pun tidak bisa dihindarkan. Propaganda-propaganda Belanda terhadap masyarakat Indonesia tentu sebuah tantangan tersendiri bagi Pemerintahan Indonesia yang baru berdiri.
Tidak mudah memamg mempertahankan usia Indonesia yang kala itu masih sangat muda. Ditambah Indonesia juga harus turut fokus dalam urusan diplomasi ke luar negeri. Untungnya Bangsa Indonesia dianugerahi para tokoh-tokoh bangsa yang pandai dalam menggalang dukungan Internasional. Sehingga tak sulit bagi Indonesia untuk menarik pengaruh negara-negara luar.
Terlepas dari apapun yang terjadi Missi Haji I dan II menjadi salah satu penyumbang dukungan dunia Timur Tengah terhadap Indonesia. Sehingga, bukan hal yang aneh jika Indonesia juga melakukan hal yang serupa.
Sumber:
Loir, Henri Chambert, Naik Haji di Masa Silam: Tahun 1900-1950, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2013
M. Dien Majid, Berhaji di Masa Kolonial, Jakarta: CV Sejarahtera, 2008.
Sumur Harahap, Mursidi, Lintasan Sejrah Perjalanan Jamaah Haji Indonesia, Jakarta: PT. Inti Media Ciptanusantara, 1994.

