Akhirnya, penghujung pekan ini kita akan bertemu dengan bulan yang paling dirindukan oleh umat Muslim, Insya Allah. Memang begitu tepat, jika bulan Ramadhan disebut pula sebagai bulan taubat. Setelah sepuluh (bahkan sebelas) bulan sebelumnya kita terlalu disibukkan dengan urusan pekerjaan, materi, dan sesuatu yang bersifat “duniawi”, di bulan ini tiba-tiba seperti dihampiri angin sejuk di tengah kondisi yang begitu panas.
Tentu ini berlaku bagi kita yang telah melupakan “pesan” Ramadhan tahun lalu secara berangsur-angsur tiap harinya sampai bertemu Ramadhan kembali di tahun ini. Kalau kita membaca kembali generasi sahabat (Nabi), mungkin kita bisa menemukan prosesi persiapan Ramadhan yang jaraknya bisa berbulan-bulan sebelumnya. Bisa hampir empat bulanan.
Tapi pembahasan itu mungkin kini tak terlalu penting karena pada faktanya tinggal hitungan hari saja kita bertemu. Dari empat bulan diringkas menjadi empat hari. Luar biasa memang. Jadi ringkasnya, waktu yang sangat singkat, padat, dan begitu jelas ini masih bisa kita manfaatkan untuk mempersiapkannya. Minimal agar tidak kaget dan bisa meraih seoptimal mungkin “pesan” Ramadhan.
By the way, kita juga patut bangga. Di tengah minyak goreng yang mahal, elit dan parpol (penguasa) cukup memberikan solusi cerdas: memasak tanpa minyak goreng. Anggap saja mahalnya minyak goreng sebagai kado menuju Ramadhan. Untuk menghindari kicauan pedas netizen di kanal youtube yang mempertontonkan tutorialnya, komentar pun dimatikan. Ya, sudahlah. Semoga saja tutorialnya bermanfaat.
Kembali ke Ramadhan. Salah satu “pesan” Ramadhan yang saya tangkap di daerah perkotaan (dalam hal ini Jogja) yakni mengenai pesan sosial. Agaknya berbeda jauh ketika dulu saya berada di desa (Patimuan, Cilacap). Pesan sosial Ramdhan di daerah kota ialah membanjirnya gerakan sosial, mulai dari buka puasa, sahur, bakti sosial, dan segudang agenda “gratis” lainnya. Lembaga filantropi benar-benar bekerja luar biasa dahsyatnya, bahkan sampai masuk-masuk daerah ujung-ujung yang seolah tak nampak. Perputaran dana orang berpunya dan orang yang bersedekah di lembaga seperti ini pasti luar biasa besarnya. Saya merasa itu tidak terjadi di desa saya delapan atau sembilan tahun lalu, entah kalau sekarang. Nampaknya baru sebatas menu buka puasa atau sahur gratis. Itupun hanya di masjid-masjid besar saja dan tak banyak.
Dengan meriahnya “pesan” Ramadhan ini, tentu kita berharap tak ada orang menangis di daerah perkotaan yang gejalanya terus menuju pada keterasingan (loneliness), semua orang bisa menikmati makanan dengan layak, dan tersenyum. “Pesan” sosial ini tak boleh hanya berputar di masjid-masjid besar saja tanpa pernah menyentuh jalanan dan sudut-sudut paling sempit. Memang semenjak lembaga-lembaga filantropi menjamur di negeri kita, hal-hal semacam ini bisa mulai terminimalisir. Belum lagi banyaknya organisasi atau komunitas yang juga kerapkali melakukan hal sejenis. Puasa dalam konteks ini seharusnya bisa berfungsi sebagai upaya “transformasi” sosial. Ia menyalurkan kebahagiaan kepada yang selama ini “tertindas” dan tak dipedulikan. Jikalau proses ini bisa terus dipertahankan ke bulan-bulan lainnya (termasuk dengan program pengembangan sumber daya manusia), tentu akan jauh lebih baik. Korelasinya juga berkaitan dengan zakat, wakaf, infaq, dan semacamnya. Paling tidak, meminjam istilah Kuntowijoyo, apa yang dinamakan “kemiskinan natural” bisa diminimalisir dan berangsur-angsur hilang.
Nah, jika semarak itu ada di kota, mungkin yang perlu kita tengok sekarang adalah di desa-desa. Saking lamanya tak pulang-pulang, jujur sekarang saya kurang tahu kondisinya seperti apa. Apakah lembaga-lembaga filantropi seperti yang telah kita sebut sudah ada dan masuk ke sudut-sudut? Ataukah masih terpaku di kota-kotanya saja? Kalau keberadaan lembaganya, saya melihat sudah mulai ada dan bermunculan. Semoga saja mereka tak terpaku di daerah perkotaannya, namun juga menuju daerah-daerah ujung dan yang kerapkali tak tersentuh. Jika ternyata belum, semoga itu bisa menjadi bahan evaluasi bagi lembaga-lembaga filantropi dan organisasi kegamaan atau sosial lainnya.
Itu baru salah satu “pesan” Ramadhan, belum pesan yang lainnya. Belum lagi soal zakat di penghujung Ramadhan. Setelah itu, kita disebut telah menang. Kalau sudah menang? Mungkin nanti kalah lagi. #pis []
Viki Adi Nugroho
