Netral

Dulu, dengan polosnya saya pernah berpikir demikian. Penulis itu harus netral, tidak memihak, dan “objektif”. Begitu juga soal ilmu (pengetahuan) saya meyakininya dengan remang-remang dan agak ragu; Ilmu itu netral.

Namun pada faktanya tidak begitu. Setiap penulis membawa ideologi yang tertanam dalam dirinya. Setiap penulis memiliki pandangan hidup di dalamnya. Demikian juga dengan ilmu, setiap pembawanya memiliki pandangan hidup dan ideologinya masing-masing. Contoh sederhananya begini. Penulis yang condong materialis akan berpikir kalau kebutuhan pokok manusia hanya sekadar makan, sandang, dan tempat tinggal. Sebaliknya, yang memiliki pandangan hidup Islam akan menambahkan kebutuhan pokok lainnya berupa kebutuhan ruhiyah (jiwa). Pasti jika mereka sama-sama menulis atau meneliti tentang masalah-masalah manusia, kita akan mendapati hasil akhirnya yang berbeda.

Contoh lain misalnya adalah ketika terjadi dialektika antara gagasan A dan gagasan B di ruang publik. Dua gagasan ini sedang mencuat dan menjadi perbincangan besar. Lalu muncul alternatif gagasan C yang mengatakan tidak memihak pada salah satunya dan mengatakan ia netral. Lebih baik damai. Sejatinya kemunculan C ini bukanlah apa yang disebut netral, tetapi justru menciptakan gagasan baru dan memihak pada gagasan yang dibawanya. Artinya dialektika bertambah luas. Kira-kira begitu ilustrasi mudahnya.

Saya menuliskan ini karena teringat ada salah satu peserta BNB yang mananyakan. Jujur, saya jadi teringat masa dulu. Ini pertanyaan yang pernah hinggap di masa lalu. Meski dulu saya masih ragu dan tidak begitu mempercayai apa yang dinamakan netralitas.

Kini, dengan tegas justru saya menjawab bahwa penulis harus berpihak. Tentu saja berpihak pada kebenaran. Sama halnya dengan para ilmuan atau para peneliti, meski hasil penelitiannya objektif, pada faktanya di dalamnya terdapat “subjektivitas” para penelitinya. Artinya memang tetap ada keberpihakan. Walaupun kadang terlihat sedikit.

Bagi para pecinta buku ketika membaca buku-buku sejarah Islam yang ditulis oleh (sebagian besar) orientalis lalu kita coba bandingkan dengan yang ditulis oleh cendekiawan Muslim atau para ulama, maka akan terlihat sekali perbedaannya. Soal fakta dan “objektivitas” data terkadang para orientalis ini memang blak-blakan dan kaya. Tetapi soal penghargaan atau adab―misalnya terhadap ulama atau tokoh yang sedang ditulis―hampir sangat kurang. Di sini mulai terlihat perbedaan siapa yang menuliskannya. Belum lagi kalau buku sejarah itu berisi komentar atau pendapat para penulisnya. Akan tambah terlihat.

Tak usah jauh-jauh bicara orientalis, dari para penulis Indonesia saja kita akan mengetahui ideologi apa yang dimiliki atau dibawa penulisnya. Kalau esai? Jelas, akan sangat terlihat karena esai adalah opini. Nah, coba baca saja karya sastra semisal saja novel yang sangat erat dan menjadi kesukaan banyak orang. Ketika kita membacanya, akan begitu terlihat keberpihakan penulisnya. Mengapa novel-novel umum yang sering memenangkan “nominasi” di Indonesia ialah yang menyinggung soal “lendir”? Itu contoh saja.

Jadi, bagi kita yang ingin tetap terus menulis jangan lupakan soal keberpihakan. Intelektual (profetik) itu soal keberpihakan. Jikalau para pengusung ide kerusakan berani blak-blakan melalu karyanya, lalu bagaimana dengan yang sebaliknya? []

Viki Ad N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *