Adalah hal yang tak terhitung jumlah dan nilainya jika berbicara nikmat Allah. Nikmat sehat, nikmat sempat, nikmat harta, dan nikmat-nikmat lainnya.
Ada dua golongan manusia dalam bersikap atas nikmat. Pertama, manusia yang mampu menyelamai nikmat-nikmat Allah. Kedua, manusia yang tenggelam dalam nikmat-nikmat Allah.
Golongan pertama, seperti orang yang menyelam. Dia melengkapi peralatannya agar selamat selama di dalam air. Dengan alat-alat selam lengkap, dia mampu menikmati terumbu karang dan ikan-ikan yang sangat indah dan cantik tanpa takut tenggelam. Dalam setiap perjalanannya dia selalu memuji nama Allah karena takjub atas ciptaan-Nya. Semakin dalam dan semakin lama dia menyelama, semakin banyak hikmah yang didapat.Begitu perumpamaan orang yang mampu bersyukur atas nikmat. Dia mampu menyelamai nikmat dengan bekal iman dan memperhatikan rambu-rambu Tuhannya. Dia senantiasa berhati-hati dan memelihara imannya melalui tadabbur dan tafakur. Hingga Allah selamatkan dia dari kegelapan dunia yang fana.
Kemudian golongan yang kedua, manusia yang tenggelam dalam nikmat-nikmat Allah. Seperti orang yang tenggelam dalam lautan. Dia tak mampu menikmati indahnya terumbu karang dan ikan-ikan di lautan. Tak sedikitpun hikmah yang dia ambil atas limpahan nikmat Allah. Begitulah seorang yang mengikuti hawa nafsu. Tak pernah memperhatikan rambu-rambu Allah. Tak pernah peduli atas hikmah di sekitarnya. Hingga Allah biarkan golongan ini dalam kegelapannya.
Wahai diri, jadilah hamba-Nya yang senantiasa bersyukur dan memelihara keimanan. Memperbanyak tadabbur dan tafakur ayat-ayat Allah. Menjadi hamba yang Allah cintai dan ridhai. Hingga Allah senantiasa memberikan nikmat hidayah-Nya padamu.
Eni Astuti. Sukoharjo, 25 Agustus 2021
