Sahabat sekalian, menulis itu menyampaikan. Ini penting untuk kita catat, ingat-ingat, dan tentu saja kita praktikkan ketika menulis. Memang, kaidah ini hanya berlaku jika kita menulis untuk dibagikan. Jika hanya disimpan sendiri, tak perlu dalam-dalam memikirkan apa yang akan dibahas berikut.
Sepanjang pengalaman menyunting tulisan atau naskah, beberapa kali saya menjumpai naskah atau tulisan yang cukup sulit untuk dicerna publik (awam). Padahal jelas-jelas sekali kalau buku tersebut ingin diterbitkan dan dipublikasikan ke khalayak. Hal semacam ini, hemat saya sangat buruk. Mohon maaf jika saya sampaikan begitu. Saya sampaikan apa adanya saja. Sebagus apapun tema atau topik yang diangkat dalam tulisan tersebut, tapi jika tak mampu “dibaca” oleh para pembaca yang ditarget, apa jadinya?
Jadi sahabat sekalian, sekali lagi saya tekankan bahwa menulis itu menyampaikan. Jika target tulisan kita adalah pembaca umum (awam), maka sebisa mungkin apa yang kita tulis bisa dimengerti mereka. Jangan gunakan akrobat bahasa yang keterlaluan. Jangan pula gunakan bahasa langit ala-ala kaum intelek. Gunakan saja bahasa-bahasa yang mudah dimengerti. Jika memang terpaksa menggunakan istilah atau bahasa yang “tinggi”, misalnya karena bahasan tadi tulisannya memang begitu, maka berikan definisi, pengertian, catatan kaki, perumpamaan, atau apapun yang bisa memudahkan pembaca awam sekalipun agar bisa mencernanya.
Akan berbeda halnya jika target pembaca itu orang intelek, terpelajar, atau kalangan akademisi, jika kalian ingin berakrobat sedemikian rupa dalam mengolah kalimat dan kata, silakan. Itu tak masalah.
Saya hanya ingin mengingatkan saja, bahwa bagi saya (ini subjektif), tulisan yang baik adalah tulisan yang mudah dimengerti dan dapat dicerna oleh mereka yang dituju tulisan kita. Dengan begitu, kita perlu terus belajar bagaimana caranya “menyampaikan” pesan melalui tulisan (karena kita memang sedang menulis).
Salah satu dari sekian banyak cara untuk belajar, adalah dengan membaca tulisan-tulisan orang lain. Perhatikan bagaimana mereka menyampaikan pesan utama dan gagasan-gagasannya. Jangan hanya perhatikan mengenai “esensi” tulisannya. Cara ini cukup efektif. Kita bisa membandingkan mana yang sekiranya efektif, mana yang ternyata agak bertele-tele, mana yang kurang efektif, dan lain sebagainya. Tak jadi masalah kita mau menggunakan gaya tulisan seperti apa, itu tak jadi masalah. Mau dibuat muter-muter juga tak masalah sebenarnya. Paling penting dari itu semua adalah bagaimana pesan yang ingin kita sampaikan bisa dimengerti oleh pembaca.
Adapun trik sederhana yang bisa kita lakukan setelah menulis dan ingin membagikannya ke publik, misalnya media sosial, adalah dengan membacanya beberapa kali sebelum membagikan atau mempostingnya. Coba baca dengan teliti dan resapi. Coba lakukan beberapa kali. Saya yakin, kita akan menemukan kata atau kalimat yang biasanya cukup mengganjal, kurang dimengerti, aneh, kurang tepat, atau ketidakefektifan lainnya. Lakukan sampai kita yakin kalau itu sudah enak dibaca. Setelah itu, baru kita bagikan. Cara “self editing” ini cukup baik untuk kita belajar mengedit tulisan sendiri dan tentu saja belajar agar tulisan kita lebih mudah untuk dibaca orang lain.
Semoga bermanfaat. []
Viki Adi N
