Bagi seorang Muslim pergi ke masjid tentu saja sudah menjadi rutinitas dalam sehari-hari. Melepas penat bertemu dengan Rabbnya. Berserah diri dan bersujud kepada-Nya.
Masjid adalah tempat suci dimana diharuskan menjaga adab-adab didalamnya, tidak bermaksiat dan dianjurkan untuk berdzikir dan berdoa. Termasuk menanggalkan semua perkara dunia layaknya jabatan, kekayaan, bahkan kekuasaan sekalipun. Semua sama tidak ada yang dibedakan, bersujud tanpa ada batasan status sosial. Begitulah Islam.
Seperti dalam firman-Nya, “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Lantas bagaimana kita setelah keluar dari Masjid, apakah perilaku adab kita masih sama seperti halnya di dalam masjid?. Tentu saja sekalipun sudah keluar dari masjid harusnya suasana masjid pun akan tetap ada dalam hati yang itu menebar ke dalam jiwa dan menjadi perilaku.
Hati ataupun raga yang mensuasanakan dirinya seperti halnya di dalam masjid tentu akan menjadi dirinya terhindar dari perilaku-perilaku yang kurang baik dari dalam diri. Termasuk menjadikan dirinya tawadhu dan rendah hati seperti halnya saat bersujud karena tidak ada lagi perbedaan dengan manusia lain.
Begitu banyak narasi yang mengatakan “bangkitnya Islam bermula dari banyaknya orang yang pergi ke masjid.” Namun menjadi hal yang begitu fundamental adalah bagaimana kita tetap mensuasanakan diri kita seperti halnya di dalam masjid dimanapun kita berada. []
Akhmad Sukhrowardi, 00.01 21.8.21.
