Menjaga Kewarasan, Termasuk Mereka (Caleg) yang Gagal

Pemilu usai, suara-suara sudah terlihat kemana. Tinggal menunggu pengumuman resmi. Timses dan caleg yang tidak lolos akan kembali seperti sedia kala. Meski begitu, tak jarang yang sulit untuk melepaskan rasa sakit dan cemas akan kegagalan, sakit hati, gambaran hari esok, dan sebagainya.

Hal tersebut tak lepas dari banyaknya cost selama perhelatan tersebut. Untuk menjadi aleg DPRD, kalkulasinya untuk bisa jadi, minimal dana 1M harus disiapkan. Memang faktornya sangat banyak, tiap daerah bisa berbeda, tiap lanskap/latar belakang masyarakat juga berbeda, dan masih banyak faktor-faktor lainnya yang berpengaruh. Cuma, ini saya tulis berdasar pengalaman saja.

Saya sedang tak ingin membahas hal tersebut. Kapan-kapan saja mungkin ya, kalau sempat. Saya hanya ingin sedikit mengurai soal bagaimana pikiran manusia sangat berpengaruh terhadap persepsi dan kehidupan kita saat ini.

Jika kita lihat di berita beberapa caleg yang gagal dan timsesnya berusaha untuk melakukan terapi, sebenarnya kita bisa melihat akar permasalahannya. Pada dasarnya, perasaan mengenai kecewa, gagal, sedih, cemas akan hari esok, tak lain tak bukan bersumber dari pikiran mereka sendiri. Meski begitu, ada kasus-kasus tertentu yang memang ada semacam “bawaan” dari manusianya (tentu saja, psikiater lebih cocok kalau kasus seperti ini).

Pikiran negatif yang telah teraduk-aduk, pada akhirnya membawa emosi negatif berkecamuk. Akal sehat atau pikiran yang jernih sungguh sulit untuk didapati. Masalahnya ada di sini. Selama kita tidak bisa berpikir lebih rasional, berpikir lebih jernih, selama itu juga masalah stres susah untuk pergi. Untuk itulah, menenangkan diri menjadi pilihan pertama untuk mencoba menetralisir. Setelah itu, mengajak untuk memperluas persepsi akan jauh lebih mudah.

Tak hanya untuk kasus timses atau caleg yang gagal, hal semacam ini juga bisa dilakukan untuk diri kita sendiri yang mungkin sehari-hari kerap mengalami rasa cemas berlebih. Misalnya, mengenai keuangan, masa depan, pekerjaan, dan seterusnya. Selagi kita masih bisa berpikir jernih dan rasional, selama itu pula kita masih bisa memikirkan dan mengambil tindakan dengan baik untuk terus berusaha. Persepsi kita akan melihat masalah dengan lebih luas, dengan ragam kemungkinan yang lebih banyak.

Jika orang melihat satu pintu tertutup dan seolah semua pintu lain sudah tidak ada, maka dengan pikiran yang jernih dan persepsi yang luas, kita bisa melihat banyak pintu lain meski satu pintu telah tertutup dihadapan kita. Mengondisikan pikiran ini sangat penting. Tak sedikit orang yang bahkan sampai jatuh sakit (fisiknya) karena pikirannya terlampau negatif.

Misalnya, mengenai hari ini. Terlalu banyak dari kita tidak bisa menikmati hari ini, menikmati yang sedang kita jalani. Pikiran kita terlalu jauh memikirkan hari esok atau yang belum tentu terjadi. Ini adalah salah satu sumber penyakit. Jika kita bisa lepas dari satu masalah ini, kita pasti akan bisa menikmati hidup.

Masih ada lima tahun lagi. Jika mau nyalon, persiapkan dananya. Minimal, seperti yang saya sebutkan tadi. Meski lima tahun ke depan, cost-nya bisa lebih besar lagi (#pis).

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *