Lisan begitu mudah berbicara. Menuturkan nasehat-nasehat bijak pada lawan bicara. Rupanya mengamalkan tak semudah menyampaikan. Apalagi berkaitan hal yang tak dicintai oleh diri.
Senyum semu menghiasi. Hati dan pikir tak sepenuhnya saling bekerja sama. Tak jarang malah saling beradu. Saling menentang, siapa yang akan menang(?) Sedang kaki terus melangkah mencari alasan untuk mencintai tempat yang baru lagi asing.
Mata tertuju pada seseorang yang dianggap paham. Menyelami setiap butir kata yang terucap. Berharap menemukan alasan mencintai. Rupanya, harap tak berbuah manis. Justru keraguan mengisi ruang hati. Mempertebal dinding pembatas. Menjadi sebab semakin menjauhnya diri. Mencoba menjalankan peran meski dalam keraguan.
Memutuskan terus melangkahkan tanpa tau arah. Sambil merayu pada Sang Maha Besar. Sampai Allah hentikan langkah di satu tempat yang masih terasa begitu asing. Rupanya ada senyum tulus dari pemiliknya.
Tutur katanya yang begitu hangat. Pribadinya yang begitu hebat. Mengajak diri bertukar pikir. Dirinya mampu menjelaskan dengan gamblang dan santun. Mengenalkan sekaligus menuntun diri memahami lebih dalam. Meski tak jarang berdebat perihal mendasar. Namun rupanya, perantaranya tumbuh cinta. Cinta pada sebuah amanah baru. Cinta pada sebuah wadah perjuangan yang bulan ini genap berusia 24 tahun.
Memahami hikmah di antara sekian banyaknya nikmat Allah. Perlunya memilih lingkaran pertemanan yang mendukung. Tak perlu ragu meninggalkan lingkaran pertemanan yang menjauhkan dari amanah yang Allah berikan.
Mencari alasan untuk mencintai, mungkin hal mudah yang dipersulit oleh diri. Ternyata dengan satu kata ajaib saja, cinta mudah tumbuh. Kata itu ialah ridha. Ridha atas ketetapan Allah.
Sukoharjo, 29 Maret 2022
Eni Astuti
