Rakyat Indonesia khususnya umat Muslim dikejutkan oleh kabar dari salah satu ormas Islam besar di Indonesia yang mengeluarkan semacam “rekomendasi” kepada penguasa untuk melarang salah satu paham atau mazhab. Mereka menyebutnya sebagai paham “wahhabi”. Meski setelah ramai jadi perbincangan dan hujatan, ada klarifikasi bahwa hal tersebut masih bentuk rekomendasi internal yang perlu persetujuan ketua/pimpinan organisasi dan yang dimaksud wahhabi adalah yang berpaham takfiri.
Sudah lazim memang tingkah polah―semoga saja oknum―organisasi yang sedang merapat ke kekuasaan. Ada saja kerjaan dan pintanya. Tapi amat sangat disayangkan betul, mengingat organisasi berwarna hijau ini melalui pimpinan barunya selalu mengulang-ulang narasi saling menghargai dan toleransi. Sesuatu yang kerapkali jadi ambigu. Menenggang beda agama namun sengit terhadap saudara seiman.
Sebenarnya, di desa kelahiran saya, NU adalah organisasi yang telah berurat. Tak bisa dipungkiri lagi. Itu sudah pasti. Saya juga menimba ilmu pada guru atau Kyai yang ormasnya jelas NU. Saya masih mengakui bahwa saya juga berdarah NU. Saya dibesarkan oleh didikan Kyai kampung dan orang tua sampai sekarang juga masih aktif di majelis ta’lim salah seorang Kyai NU. Jadi kehidupan NU di desa saya, sejauh saya memandang ya biasa-biasa saja. Tentram, aman, dan OK. Tetapi ketika melihat tingkah yang disebut “oknum” di tingkat elit/pusat atau struktur daerah lain atau beberapa keputusan-keputusannya malah justru berkebalikan. Contohnya yang telah kita saksikan kemarin-kemarin.
Membuat semacam rekomendasi pelarangan suatu kelompok atau aliran atau mazhab atau apapun sebutannya kepada penguasa itu benar-benar mengingatkan saya pada zaman antah brantah. Zaman ketika Islam menjadi peradaban, namun kekuatan internalnya melemah hanya karena persoalan yang seperti ini. Zaman yang seringkali kita bangga-banggakan namun justru tercatat sebagai suatu periode yang akan memutarbalikkan keemasan.
Betul sekali. Zaman yang akan mengantarkan peradaban Islam pada jurang kehancuran dengan bermulanya Perang Salib.
Jauh sebelum perang tersebut berlangsung, apa yang dilakukan ormas hijau di atas jamak terjadi. Malahan bisa sampai pemenjaraan. Tak tanggung-tanggung, di tiap majelis suatu kelompok, ejekan hingga cacian mampu menyulut fitnah besar. Kejadian bentrok antar mazhab atau kelompok menjadi pemandangan yang biasa.
Tak perlu percaya pada tulisan ini. Silakan buktikan sendiri melalui lembar-lembar sejarah yang telah tercatat. Buka saja sejarah-sejarah di masa tersebut. Betapa mengerikannya kondisi umat Muslim.
Pada zaman itu, meski sedang dianggap sebagai zaman peradaban dan keilmuan Islam, namun zaman tersebut juga biasa disebut zaman “kemunduran” dari segi kekuatan internal. Itulah mengapa, pasukan Salib bisa dengan mudah memporak-porandakan negeri-negeri Muslim yang pada faktanya mereka terpecah melalui amir-amir kecil yang berkuasa. Khilafah Abbasiyah hanya semacam institusi yang sedang sakit dan cukup dengan sebutan formalitas belaka. Faktanya, menyatukan para amir saja agar tidak berkonflik begitu sulit.
Bukankah kita masih ingat kisah pilu bagaimana rombongan kaum Muslimin membawa tulang belulang korban kekejaman pasukan Salib kepada khalifah, lantas khalifah hanya memikirkan burung kesayangannya yang hilang dan menyuruh mereka pergi?
Bukankah kita masih ingat kisah-kisah bentrokan, pembakaran/perusakan masjid, hingga saling bunuh antar kelompok di zaman tersebut?
Mengingat peristiwa kemarin, saya benar-benar terenyuh dan tentu saja memunculkan ingatan pada zaman “kegelapan” peradaban Islam tersebut. Saya hanya bisa menutup tulisan ini dengan merekomendasikan satu buku lawas yang telah di-“package” ulang, yang berjudul Model Kebangkitan Umat Islam karya Dr. Majid Irsan al-Kilani. Buku yang cukup bagus untuk introspeksi diri kita selaku umat Muslim dengan kejadian-kejadian seperti yang telah disebut di atas. Dan, semoga NU juga bisa mengevaluasi persoalan rumahnya agar hal-hal semacam ini tidak terjadi lagi. []
Viki Adi N
