Lupa Tak Disimpan

Pernahkah anda menulis sesuatu panjang lebar udah jadi, apik dan ciamik. Ehh, malah tidak ke save. Saya baru saja mengalaminya. Mangkel kata orang jawa. Ide yang sudah di tulis sedemikian rupa hilang seketika. Apakah saya menyerah? Penginnya gitu, males mikir lagi. Hey, tapi tunggu dulu. Ingatan yang samar-samar itu saya masih mengingatnya. Ok, saya tulis kembali meskipun mungkin dengan hasil yang tidak seperti sebelumnya. Atau sebaliknya bisa jadi malah hasilnya lebih baik. Nah, akhirnya jadi lagi tulisannya.

Ketika anda mengalami kegagalan. Cobalah mencoba lagi meskipun dengan effort yang tidak seperti sebelumnya. Karena hasilnya bisa jadi menjadi lebih baik dari sebelumnya. Meminjam istilah filsuf kekinian Achmad Dhofir Zuhry, “Banyak orang yang sebenarnya sudah sangat dekat dengan keberhasilan, tapi sayangnya mereka menyerah.”

“Mereka saja menyerah, apalagi saya?”.
Menyerah bisa saja menjadi pilihan. Tapi itu pilihan terakhir. Bahkan kita juga bisa menghilangkan pilihan terakhir itu dan terus melanjutkan perjuangan.

Lanjutkan mimpimu yang terang itu meskipun kau tau bahwa cahaya lampu neon di kamarmu tak seterang sinar rembulan. Raim Laode pernah berkata, “Bermimpi itu gratis, jadi bermimpi lah setinggi-tingginya. Kalau perlu yang gak masuk akal sekalian”. Saya hanya berfikir apa jadinya kalau manusia tidak pernah bercita-cita, apa jadinya bila manusia tak punya mimpi, apa jadinya bila manusia berhenti membayangkan masa depannya atau apa jadinya bila manusia menyerah dengan perjuangannya.

Eh. Kemana ini. Lagi bahas lupa save tulisan. Malah bahas cita-cita. Tapi tak apa. Teruslah bermimpi. Teruslah bercita-cita. []

Akhmad Suhrowardi

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *