Integritas Penulis

Ketika masih mahasiswa dan sedikit sekali pengetahuan tentang menulis dan perbukuan, saya pernah diceritakan soal ditolaknya naskah karena soal integritas penulis. Tak hanya itu, soal rekrutmen redaksi di penerbit juga demikian.

Tak sampai tolak menolak, bahkan menggulung atau menarik suatu karya juga bisa terjadi lantaran integritas penulis.

Memang, ada kaidah yang mengatakan bahwa kebaikan atau kebenaran bisa diambil dari mana saja tanpa harus melihat siapa yang mengatakan. Namun, sepertinya soal integritas penulis dalam hal dunia penerbitan atau perbukuan memang agak lain. Bukan hanya soal kebaikan atau kebenaran, tetapi juga soal nama baik, bisnis, kenyamanan, ketertiban, dan seterusnya.

Ada begitu banyak norma yang akhirnya agak menyelisihi kaidah di atas. Dulu, saya tak ambil pusing cerita-cerita tersebut meski dituturkan oleh seorang editor senior sekalipun. Namun, kini saya benar-benar mempercayainya.

Mengapa? Karena saya mengalaminya sendiri. Naskah yang sudah diterbitkan, akhirnya terpaksa kami gulung hanya karena masalah integritas. Memang tidak membawa nama penerbit kami dalam persoalan yang terjadi, tetapi tak sedikit yang akhirnya tertipu karena ada embel-embel buku pernah diterbitkan di Gaza Library Publishing. Banyak orang percaya dengan status atau penulis yang menempel pada atribut Gaza. Tentu saja saya bersyukur atas hal ini (soal kepercayaan terhadap penerbit kami), tetapi kami juga bersedih dan kasihan karena kejadian soal integritas ini terjadi pada kami, terjadi pada penulis kami. Apalagi musibah yang terjadi pada para pembaca setia kami yang tersandung masalah dengan penulis dari buku yang kami tarik.

Background pesantren terkenal pada akhirnya tidak bisa dijadikan label ketsiqohan seseorang. Kadang saya juga berpikir, hal ini bisa menjadi pengingat bagi diri pribadi. Tak akan ada yang tahu saya akan jadi seperti apa sebagai penulis di kemudian hari. Yang pasti dan bisa dilakukan hari ini hanyalah terus berbenah. Hari ini baik, belum tentu esok. Hati, siapa yang tahu? Manusia, siapa yang tahu?

Saya pikir ini pelajaran bagi kita semua. Mohon maaf jika tulisan-tulisan yang dibagikan tidak sesering biasanya. Kesibukan di meja redaksi memilah milih naskah termasuk menyunting satu per satu benar-benar menghabiskan waktu dan pikiran.

Kesimpulan dari tulisan ini? Ya, simpulkan sendiri saja. []

 

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *