Menyerah, mungkin kata-kata ini terdengar sedikit ‘sumbang’, karena umumnya kata ini identik dan disandingkan dengan hal negatif. Benarkah kata menyerah itu selalu demikian?. Apakah memang kita manusia selama masih diberikan nafas tidak boleh menyerah? Dosa kah jika kita menyerah?
Mungkin sebelum menguraikan pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita bisa sedikit membahas berita yang dua hari ini cukup menggemparkan. Bukan masalah Pawang Moto GP Yap, Seorang Ibu Menggorok ke 3 Anak nya”.Berita ini cukup membuat orang diambang kebingungan, disatu sisi tindakan nya sangat kejam, namun di sisi lain juga membuat iba dengan alasan mengapa ibu itu melakukannya.
Ketika membaca judul berita tersebut, tentu orang pada umumnya dengan pemikiran sehat menganggap kejadian ini sangat miris. Selanjutnya hal yang terlinatas pertama kali pada pikiran pembaca adalah “Ibu macam apa yang tega melakukan tindakan seperti itu?”. Kemudian akan bertebaran komentar para nitizen dengan segala argument dan persepsi mereka masing-masing. Hal demikian lumrah terjadi, ketika ada berita yang mana diluar kata “Normal” maka akan mudah dan cepat sekali menyebar. Tapi perlu juga diamati jika kasus-kasus seperti ini akan selalu menghasilkan informasi-informasi baru dari hasil data-data penyelidikan dan permeriksaan. Nah dalam kasus ini didapati informasi jika wanita itu depresi yang diakibatkan dari orang² disekitarnya dan masalalunya. Dari informasi-in baru ini akhirnya beberapa nitizen, yang awalnya menghujat menjadi iba, yang awalnya apatis akhirnya memaklum kan dan merasa kasihan terhadap pelaku.
Baik, kita tidak akan membahas sikap nitizen mana yang benar atau salah. Namun dari sini yang coba kita bahas adalah pelajaran apa yang bisa di ambil dari kasus ini dan apa kaitannya dengan pertanyaan-pertanyaan pada paragraf pertama tulisan ini mengenai menyerah.
Bersambung…
Anis Ansani
