Kekuasaan dan Kesumat

Jika kita mencermati atau membuka-buka kembali sejarah Indonesia silam misalnya, maka kita akan mendapati proses perpolitikan yang (cukup) berdarah-darah. Mungkin, cerita Ken Arok dan Ken Dedes telah terlalu familiar di kalangan kita.

Bagaimana dengan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia? Ternyata tak jauh berbeda. Tak hanya intrik politik internal, intrik politik eksternal juga berlaku demikian. Bahkan sesama kerajaan Islam juga saling menyerang dan saling berebut pengaruh. Ketika suatu kepemimpinan pusat lemah, maka yang berada di bawahnya akan muncul sebagai kekuatan baru, keluar, dan berusaha mengambil alih kepemimpinannya. Begitu seterusnya.

Konflik tersebut diperparah dengan hadirnya bangsa asing seperti Inggris, Portugis, Spanyol, dan Belanda. Kapal-kapal yang singgah dengan tujuan awal berkaitan dengan kepentingan ekonomi pada akhirnya juga bermuara ke politik dan penguasaan. Kita mengenal lanjutan masa ini dengan era kolonialisme.

Politik dan kekuasaan itu memang penting. Kekuasaan mampu menegakkan apa-apa yang tak bisa ditegakkan oleh syariat. Jadi semuanya akan dikembalikan kepada siapa yang berkuasa. Jika ia orang yang baik, maka baik pula kebijakannya. Begitu juga sebaliknya. Rumusnya berbanding lurus.

Namun demikian, persoalan selanjutnya adalah tentang mahalnya ongkos untuk meraihnya. Ongkos itu bisa kita artikan dalam wujud materi dan non-materi. Materi berkaitan dengan uang, barang, dan semacamnya. Sementara non-materi berkaitan dengan sumber daya manusia (misalnya mengenai rela berkorban, dll.) dan sejenisnya. Itulah mengapa, persoalan politik dan kekuasaan dalam sejarah manusia begitu menyita perhatian bahkan sampai berdarah-darah.

Apakah di masa sahabat Rasulullah pernah terjadi konflik sampai berdarah-darah? Jawabannya pernah. Masih dan terus lekat dalam ingatan bagaimana kisah pilu perang Jamal, antara ibunda kaum Mukminin yang juga istri Rasulullah, Aisyah dengan sahabat sekaligus menantu Nabi Saw, Ali bin Abi Thalib. Konflik itu berlanjut hingga membawa nama Muawiyah menjadi penguasa baru dan sampai kini barangkali nama yang disebut terakhir kerapkali “dipersetankan” oleh sebagian kalangan.

Tulisan ini bukan untuk mendiskreditkan, namun untuk sedikit mengeja kembali dan mengambil pelajaran besar dari konflik-konflik mengenai politik dan kekuasaan. Ujian konflik mengenai ini ternyata juga pernah menimpa generasi terbaik umat. Bisa dibayangkan kita hidup jauh berabad-abad lamanya. Jaraknya begitu jauh dari generasi terbaik. Lalu, bagaimana jadinya?

Jika kita cermati lagi, konflik-konflik berikutnya juga ada erat kait dengan kesumat di dada. Ada semacam balas-membalas. Bagaimana (daulah) Abbasiyah bisa muncul dan akhirnya mampu memimpin beradab-abad lamanya? Buka saja lembar sejarah mengenainya. Konflik berdarah itu nyata adanya. Di suatu masa nanti, keturunan Umayyah―yakni Abdurrahman ad-Dakhil―bangkit memimpin Andalusia dan mengobarkan api. Ia tak mau patuh pada daulah yang pernah menghancurkan keluarganya.

Meski konflik-konflik semacam itu ada dan berkobar di kalangan elit, namun semua itu tak menghalangi peran para ulama dan ilmuwan Muslim untuk tetap menyebarkan ilmunya. Terbukti di dua era tersebut―yakni Abbasiyah dan Andalusia―peradaban Islam pernah mencapai puncak emas dalam ilmu dan teknologi. Kita bisa perhatikan di belahan bumi lainnya (yakni Barat), justru sedang berada di masa kegelapan. Barangkali, itu memang kehebatan Islam yang telah menjadi “penjaga” dan melembaga.

Di abad demokrasi seperti ini, tentu politik dan kekuasaan adalah barang penting bagi umat. Umat Islam berkepentingan untuk mengelolanya. Persoalannya kini, kesumat dalam tubuh umat khususnya kelompok-kelompok Islam mudah sekali disulut. Tentu ini menjadi perhatian dan PR besar bagi kelompok atau organisasi-organisasi Islam untuk terus mendidik anggotanya agar bisa bersikap baik, bijak, dan menjadi orang beradab. Jika sudah sampai pada tahap itu, tak perlu membicarakan bagaimana nasib politik umat. []

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *