Kebahagiaan Tingkat Tinggi

Diantara kita pasti sering mendengar kutipan populer ini yang entah asalnya darimana, “kebahagiaan itu berbeda-beda tergantung dari individunya”. Karena itu banyak orang mencoba segala cara untuk mendapatkan kebahagiaan.

Mulai dari me time dengan rebahan dikamar sambil nonton Netflix seharian. Atau menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas karir, hobi dan pertemanan. Ataupun aktivitas lain yang lebih ekstrim dengan ikut pesta-pesta, mabuk, tinggal di hotel bintang 5. Apapun itu dijalani demi mendapatkan kepuasan diri masing-masing.

Kebahagiaan adalah sebuah keadaan yang menjadi tujuan dari setiap orang. Beramai-ramai orang mencari apa arti kebahagiaan, dan bagaimana cara mencapainya. Namun walaupun tahu mereka menginginkan kebahagiaan, seolah mereka masih acuh tak acuh dengan tetap menerima kenyataan bahwa mereka hidup dalam dunia yang absurd dan tidak adanya kepastian pada apa arti hidup.

Keadaan ini disebabkan oleh worldview barat yang memandang bahwa hidup ini adalah tragedi. Bahwa manusia tidak akan mampu mencapai kebenaran yang mutlak. Filosofi tragedi ini membuat manusia terus merasa ragu-ragu dan kebingungan dalam hidupnya. Paham ini kemudian secara tidak disadari menjadi suatu kesadaran kolektif di masyarakat modern sekarang.

Dalam pencariannya tentang kebahagiaan, kebanyakan dari kita hanya tertuju pada entitas yang bersifat fisik semata. Padahal jumlah banyaknya perasaan dan kegiatan tertentu tidak akan menemukan jalan menuju kebahagiaan. Karena letak permasalahannya dimulai dari bagaimana manusia memahami konsep tentang kebahagiaan.

Dalam buku The Meaning and Experience of Happiness in Islam karya Prof. Syed Naquib Al-Attas, dijelaskan bahwa kebahagiaan itu adalah hasil dari keyakinan tentang kebenaran pada tingkatan yang paling tinggi dan juga pemenuhan tindakan amalan yg bersesuaian dengan keyakinan.

Kebenaran paling tinggi itu adalah Allah Sang Al-Haqq. Seluruh tindakan maupun ketetapan Allah pastilah benar, dan segala kebenaran di alam semesta ini bersumber dari-Nya. Keyakinan ini akan termanifestasi dalam pengamalan kita untuk melaksanakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sehingga bukan hanya kebahagiaan pada tataran konsep, tapi juga disertai dengan pengalaman kita berbahagia dalam menjalaninya. Inilah yang memberikan kita kebahagiaan terus menerus secara permanen.

Prof. Al-Attas juga menjelaskan, sa’adah (kebahagiaan) bukan hanya sekedar tentang rasa atau emosi, tapi lebih dalam dari itu yaitu keyakinan. Karena yakin menghilangkan keraguan dari hati.

Sa’adah juga merupakan lawan dari kesengsaraan. Sa’adah hanya akan dikenali oleh orang-orang yang benar-benar menyerahkan dirinya kepada Allah. Bagi mereka, kebahagiaan dirinya bukanlah tujuan akhir dari kehidupan. Karena kebaikan yg tertinggi adalah kecintaan kepada Allah.

Jadi, kebahagiaan itu bukan sekedar perasaan atau emosi semata, tapi lebih tinggi dari itu yaitu cinta kepada Allah. []

Auliyan Nisaa

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *