Di Luar Kendali

Marah. Kita bicara soal marah. Tetiba saja barang-barang di sekitar hancur. Orang-orang di sekitar juga terdampak. Ada beberapa kasus, anak jadi pelampiasan kemarahan orang tua yang bukan disebabkan oleh mereka.

Saya mengenal seorang pembicara yang menjadikan marah sebagi salah satu dari sumber penyebab penyakit. Kalau dalam ilmu kedokteran, khususnya psikiatri, biasa disebut gangguan psikosomatik. Marah, takut, cemas, stres, depresi, serta persoalan jiwa lainnya bisa mengganggu fisik. Percaya atau tidak percaya, memang efek itu akan segera kita rasakan jika sedang terserang gangguan yang bersifat mental.

Kembali ke marah. Jika kondisinya sudah seperti di atas, di luar kendali, atau sering kali diri kita tidak bisa mengendalikan, maka kita perlu berhati-hati. Bukan hanya soal harga pada gangguan fisiknya, tapi soal bawah sadar. Soal sesuatu yang telah menjadi kebiasaan. Seolah semuanya sudah menjadi program otomatis pada diri kita.

Itulah mengapa, sebagian ulama mendefiniskan akhlak sebagai sesuatu yang keluar secara cepat (otomatis) ketika merespons sesuatu. Ketika akhlaknya suka menolong, maka ketika ada yang membutuhkan ia segera memberi bantuan sebisa mungkin. Akan berbeda bagi yang belum menjadi akhlaknya, ia akan berpikir lama, atau bahkan kurang memedulikannya.

Begitu juga dengan marah. Jika marah sudah menjadi akhlak, maka ketika ada kondisi yang membuatnya marah, segera saja ia marah-marah. Otomatis saja saklarnya. Ia tidak sadar. Setelah tahu banyak yang rusak, atau yang meninggalkan, biasanya ia baru sadar mengapa ia bersikap seperti demikian.

Walau sudah “di luar kendali”, nyatanya akhlak masih bisa dibentuk atau diprogram ulang. Susah? Memang susah. Sesuatu yang telah menjadi kebiasaan, sudah menjadi hal yang otomatis. Memang susah. Cara yang bisa ditempuh adalah dengan menanamkan kebiasaan baru. Di awal-awal berubah, meminimalisir kebiasaan lama memang diperlukan. Sedikit demi sedikit dan pelan-pelan tak mengapa. Dari sini kita tahu, mengapa orang yang sedang mengubah kebiasaannya terkadang masih saja berbuat jahil untuk kembali, walau sedikit-sedikit. Pergulatan sedang terjadi di dalam dirinya, Program otomatis sedang ditantang dan dipreteli. Tentu saja, ada banyak respons yang terjadi.

Selanjutnya, belajar mengendalikan diri, termasuk menyalakan akal (kesadaran). Cara ini memang terbilang sulit. Mialnya ketika akan marah, sesegera mungkin kita harus menyadarinya sehingga hal tersebut bisa diredam. Butuh latihan terus menerus. Latihan ini harus dilakukan secara langsung dalam tindakan nyata. Meski awalnya, kita perlu menanamkannya pada pikiran terlebih dahulu secara berulang-ulang.

Semoga kita bisa diberi kemudahan untuk memperbarui hidup kita. []

Viki Adi N

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *