Oleh: Azi Wansaka/azionesaka@gmail.com
Tulisan ini merupakan jawaban panjang dari sebuah pertanyaan beberapa tahun lalu. Tepatnya tahun 2019, ketika pengetahuan tidak cukup untuk menjawab banyak persoalam. Melalui tulisan ini jawaban tersebut akhirnya secara perlahan dapat saya pecahkan.
Kita seringkali meyakini bahwa setiap pertanyaan di dunia haruslah memiliki jawaban yang mutlak. Kita yakin bahwa jawaban yang ada dapat menjawab rasa penasaran yang kita miliki. Padahal, saya meyakini bahwa tidak semua pertanyaan memiliki jawaban, terkadang tidak adanya jawaban adalah jawaban atas pertanyaan yang diajukan.
Saya tidak kemudian mengatakan bahwa setiap soal mutlak tidak memiliki jawaban, terkadang justru tidak adanya jawaban dari pertanyaan itulah jawabannya. Disisi yang lainnya, saya meyakini pula bahwa kurangnya ilmu pengetahuan juga bisa jadi adalah alasan mengapa kita seringkali tidak mampu menjawab suatu permasalahan.
Jika kita meyakini bahwa kurangnya pengetahuan adalah sumber dari ketikdakmampuan menjawab setiap pertanyaan, maka kita akan sampai pada titik dimana setiap jawaban akan terjawab seiring waktu yang berjalanan.
Tulisan ini saya dedikasikan untuk setiap orang yang pernah merasa kehilangan. Baik kehilangan dalam konteks meninggal maupu kehilangan dalam konteks yang lain. Karena saya menyadari bahwa kehilangan memang bukan perkara yang bisa kita remehkan.
A. Kenapa Manusia Harus Merasa Kehilangan
Sebagian dari kita meyakini bahwa kehilangan adalah proses yang sangat menyakitkan. Meskipun hanya kehilangan karena ditinggal ke pelaminan, memang terdengar lucu, tetapi setiap orang berhak merasa kehilangan dan tidak diremehkan atas rasa kehilangannya.
Bagi sebagian kita menyadari bahwa kehilangan adalah sebuah proses yang harus disembuhkan. Sayangnya setiap orang memiliki cara menyembuhkannya masing-masing.
Mungkin duduk di warung, memesan kopi pahit dan mendengarkan lagu galau adalah proses penyembuhan yang paling baik. Atau mungkin bagi beberapa orang, mengurung diri di kamar seharian, dan menyusun rencana selanjutnya jadi solusi ketika memamg butuh proses penyembuhan.
Lalu, untuk apakah Tuhan menciptakan kehilangan. Bukankah Tuhan kita kenal memiliki sifat Maha Penyayang. Akan terdengar kontradiktif ketika kita justru merasakan kehilangan, padahal Tuhan yang kita tahu memiliki sifat Maha Penyayang.
B. Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi Menjawab
Seorang ulama ahli tafsir, politik, sosial, hingga isu-isu Timur Tengah yang cukup berpengaruh pada abad ke 20. Beliau merupakan salah satu tokoh yang cukup terkenal di Mesir dan gencar menentang dominasi Israel di kawasan Timur Tengah.
Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi pernah menuturkan hikmah dibalik kalimat istirja yang berbunyi, inaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Menurut pandangan Syekh Mutawalli, kalimat istirja justru adalah bukti bagaimana Allah menyayangi hamba-Nya.
Bagi sebagian orang meyakini bahwa kalimat istirja selalu diidentikan dengan musibah, bencana, hingga kondisi tidak baik lainnya. Karena sejatinya seperti itulah kalimat istirja selalu digunakan, untuk kondisi-kondisi yang menurut kita sangat tidak ideal.
Syekh Mutawalli menuturkan bahwa musibah seringkali diidentikan pada dua jenis. Musibah yang bersifat dunia dan musibah bersifat akhirat. Musibah dunia menurut Syekh Mutawalli segala sesuatu seperti kehilangan, kemiskinan, penyakit, kamatian, hingga perkara dunia lainnya. Sedangkan musibah akhirat adalah kondisi ketika seseorang tidak memiliki amal sholeh.
Kalimat istirja tadi identik dengan musibah dunia yang sering kita rasakan. Lalu bagian manakah yang membuat kalimat ini merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada manusia?
Sebenernya jawaban ini akan kembali lagi ke dalam pertanyaan, seberapa yakin kita ketika meyakini Allah itu Maha Penyayang?. Agak terdengar aneh tetapi mari kita bedah. Kita meyakini bahwa Allah memiliki sifat Maha Penyayang, jika Allah Maha Penyayang bukankah Allah selalu mengetahui apa yang terbaik untuk hamba Nya.
Mari kita sederhanakan analogi yang kita gunakan, kita meyakini bahwa orang tua selalu menyayangi anaknya. Ketika seorang anak sakit bukankah sebagai orang tua yang menyayangi anaknya tidak akan memberikan es krim yang manis dan dingin, melainkan obat yang terkadang tidak enak dan pahit. Disitulah bentuk kasih sayang dari orang tua.
Di dalam kontek memahami kehilangan dan musibah kita seringkali melohat bahwa kehilangan adalah bentuk hukuman yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Padahal bisa jadi bentuk kekecewaan yang terjadi merupakan obat yang diberikan ketika seorang manusia tersebut sakit.
Kita juga seringkali lupa, bahwa musibah yang terjadi bisa jadi merupakan sarana refleksi agar ketika mendapatkan nikmat kembali, kita akan bersyukur jauh melebihi ketika sebelum mendapatkan musibah.
Sama seperti kehidupan bahwa banyak hal mungkin tidak akan terjadi sesuai dengan keinginan. Kadang-kadang kita harus merasakan kehilangan agar bisa memahami betapa pentingnya untuk memiliki. Kadang-kadang kita juga harus merasakan sakit untuk tahu betapa pentingnya menjadi sehat.
Jadi, masih pantaskah kita bertanya, Jika Tuhan Maha Penyayang, Kenapa Manusia Harus Merasa Kehilangan?
