Bulan September, Bulannya Narasi Kebangkitan PKI Digaungkan

Oleh: Azi Wansaka/azionesaka@gmail.com

Sebenarnya, sangat sulit untuk mengurainkan sejarah rumit yang terlanjur terjadi ini, mengingat setiap pihak yang terlibat di dalam peristiwa ini bisa mendefinisikan sebagai korban. Meskipun banyak narasi yang mengatakan bahwa PKI akan bangkit kembali, nyatanya fakta sejarah tidak selalu berkata deminikian, Mari saya jelaskan.

Sebagai seorang mahasiswa ilmu sejarah salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta, tentu tidak asing dengan topik diskusi tentang Partai Komunis Indonesia dan Orde Baru. Meskipun topik ini dianggap terlalu basi, namun fakta di lapangan seringkali berkata bahwa topik ini masih menjadi topik yang sering dibahas.

Kondisi ini pula seringkali didukung dengan tersedianya berbagai literasi mengenai sejarah perjalanan Partai Komunis Indonesia dan pemberontakan yang dilakukan oleh Orde Baru. Meskipun, seringkali terjadi perbedaan pandangan, namun sepertinya fakta-fakta yang diungkapkan selalu tidak memuaskan kedua belah pihak.

Memang, Partai Komunis Indonesia sudah dibubarkan lebih dari 30 tahun lamanya. Namun, misteri mengenai dalang dibalik peristiwa kudeta dan penumpasan PKI masih belumlah selesai. Setiap pihak mengklaim bahwa mereka adalah korban sesungguhnya di dalam peristiwa tersebut.

Disadari atau tidak, narasi mengenai kebangkitan PKI ini mulai biasanya mulai digaungkan kembali ketika memasuki bulan September. Tidak hanya digaungkan, namun juga dibarengi dengan aksi nonton bareng Film Pemberontakan G30S/PKI.

Meskipun, aksi nonton bareng ini dianggap sebagai cara mengenang jasa-jasa pahlawan dan menengok kembali peristiwa kudeta yang dilakukan oleh PKI, namun seringkali menimbulkan kontroversi. Tidak hanya karena film nya yang terlalu menarasikan Presiden Suharto dan Orde Baru sebagai pahlawan, namun juga seolah menarasikan bahwa PKI akan bangkit kembali.

Tentu saja sebagai mahasiswa sejarah menyimpulkan peristiwa politik yang cukup sensitif ini harus serba hati-hati. Sederhananya seorang mahasiswa sejarah tidak bisa menyimpulkan kebangkitan PKI hanya karena keinginan pribadi dan mengabaikan fakta-fakta ilmiah.

Ada beberapa alasan mengapa PKI di Indonesia kecil kemungkinan bangkit kembali, meskipun seringkali dinarasikan bangkit dan mengadakan kudeta seperti pada tahun 1965.

Pertama, menurut Sejarawan Anhar Gonggong ada perbedaan definisi yang harus dilakukan untuk menafsirkan tentang PKI di Indonesia. Penafsiran yang pertama PKI bisa ditafsirkan sebagai sebuah ideologi atau pemikiran. Penafsiran yang lain mengatakan PKI sebagai sebuah organisasi politik. Jika PKI yang dimaksud adalah PKI dalam pengertian ideologi atau pemikiran perlu dicatat bahwa selama ideologi atau pemikiran terus dipelajari maka selama itulah ideologi tidak akan pernah mati.

Penafsiran PKI sebagai sebuah organisasi politik pun harus mendapatkan pisau analisis yang cocok. Mengingat seperti yang kita ketahui bahwa PKI hingga saat ini masih menjadi sebuah partai yang terlarang. Di samping itu ongkos politik Indonesia cukup mahal, sehingga kecil kemungkin PKI dalam artian partai politik dapat kembali lagi.

Alasan kedua yang membuat PKI sulit bangkit adalah masih sensitifnya masyarakat terhadap isu PKI baik di kalangan bawah hingga kalangana atas. Memang peristiwa kudeta terjadi bertahun-tahun lamanya, namun trauma yang dimiliki beberapa kalangan tidaklah mudah untuk dilupakan. Padahal di dalam sistem Demokrasi di Indonesia, suara dan simpati dari masyarakat menempati posisi yang penting.

Alasan terakhir yang menjadi bantahan jika PKI akan bangkit kembali adalah lensa yang digunakan untuk melihat peristiwa masa lalu dengan kacamata hari ini. Padahal, seringkali sebuah peristiwa memiliki latarbelakang yang berbeda sama sekali. Di dalam konteks sejarah kebangkitan PKI didukung oleh kondisi sosial masyarakat dan Nasakom yang dicetuskan oleh Presiden Sukarno. Gagasan ini secara tidak langsung memberikan tempat yang istimewa bagi PKI di dalam percaturan politik Indonesia. Kondisi inilah yang tidak relevan terjadi pada Indonesia hari ini.

Terlepas dari semua narasi yang sering dimunculkan kembali sebagai pembaca yang budiman sangat penting untuk melihat sebuah peristiwa dalam bingkai ilmiah, bukan karena alasan pribadi. Mengutipi pendapat sejarawan JJ Rijal, bukan permasalahan seberapa banyak versi dari penulisan sejarah, tetapi seberapa taat seorang sejarawan terhadap metode penelitian di dalam kepenulisan sejarah.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *