Kebaikan bergerak dan masif disebar-luaskan. Begitu pula sebaliknya, kekufuran pun terus bergerak. Bahkan mungkin saja dalam satu jalur yang sama. Menaiki gerbong yang serupa. Tak jarang saling menyapa tanpa tahu beda antar keduanya.
Kebaikan dan kekufuran terus berjalan sesuai misinya. Tak kenal bosan meski lelah. Semangat pengusung keduanya terus mengelora. Tak goyah diterjang badai. Tak ambruk dihantam ombak. Tak patah diguncang semesta. Misi yang dibawa mengakar tajam dalam hati. Dipupuk dengan kesabaran dan keikhlasan. Dirawat dengan penuh ketekunan.
Sungguh hebatnya, bisa istiqomah dengan sedemikan rupa. Kesadaranlah yang menggerakkannya. Berangkat dari ilmu pengatahuan yang utuh, hadirkan kesadaran. Kesadaran menuntun pemiliknya untuk bergerak melakukan perubahan.
Ada langkah kecil yang mungkin berdampak besar terhadap perubahan. Layaknya Burung Hud hud yang rela menempuh jarak bermil-mil. Membawa misi besar dari Nabi Sulaiman. Dengan keridha-Nya, suatu negeri berpaling dari menyembah matahari. Kemudian beriman kepada Allah. Kontribusi Burung Hud hud mampu menjadi perantara perubahan besar.
Sekecil apapun kontribusi diri, lakukan. Karena kebaikan harus dirotasikan. Dan hanya ada dua kemungkinan, jika bukan kebaikan yang mempimpin maka kekufuran yang akan berkuasa dan membinasakan. Jadi, begitu pentingnya membangun kesadaran setiap manusia melalui pemahaman. Untuk perubahan tatanan hidup yang diridhai Allah.
Sukoharjo, 2 April 2022
Eni Astuti
