Beberapa hari lalu dunia dikagetkan dengan mencairnya es seluas kota New York di Antartika. Kata ilmuwan, ini termasuk yang paling besar. Jika ini terus berlanjut, maka akan mengancam daerah-daerah pesisir. Nampaknya, jawaban atau asumsi yang bisa kita buat adalah tenggelam dikarenakan air laut yang mulai naik. Tentu butuh waktu yang lama. Perlahan tapi pasti.
Tenggelam atau tidaknya, tentu kuasa Allah Yang Maha Menciptakan. Namun, tanda-tandanya seolah-olah memang meyakinkan ke arah sana dengan perubahan iklim yang terus terjadi di bumi. Misalnya saja dulu ketika masih SD, kita diajarkan bahwa Indonesia memiliki dua musim dengan masa setengah-setengah. Jadi setengah waktu (dalam satu tahun) ialah kemarau, lalu setengah lanjutannya ialah penghujan. Di antara dua musim itu ada perantara, namanya pancaroba. Tapi beberapa tahun terakhir kita mengalami sesuatu yang berubah. Musim rasa-rasanya tak bisa dibuat sesederhana layaknya pelajaran SD di masa lalu. Kita akui itu.
Begitu juga dengan Ramadhan yang kini berada di hadapan kita. Menjelang malam, hampir-hampir hujan selalu turun. Tentu ini menjadi ujian bagi kita yang ingin melangkahkan kaki ke Masjid. Meski sebenarnya, melaksanakan ibadah malam (baca: Tarawih) di rumah juga tak masalah. Musim seolah-olah sudah semaunya sendiri, meski mungkin BMKG bisa sedikit “memprediksinya”.
Perubahan iklim yang terjadi di bumi tentu membuat kita selaku manusia insaf. Bumi yang semakin menua sudah seharusnya membuat kita untuk berintrospeksi selaku manusia yang sangat kecil dari suatu lingkungan besar. Jika bumi rusak, bukankah manusia sendiri yang terkena dampaknya? Kira-kira begitu. Kemajuan industri dan teknologi sudah seharusnya tak mengesampingkan kita sebagai manusia yang beradab. Tapi jika prosesi industri dan teknologi ditopang oleh manusia yang berpandangan pragmatis, duniawi, dan keserakahan, maka ya sudah: wassalam.
Dengan begitu, dibutuhkanlah manusia-manusia yang baik, sadar, dan insaf untuk mengelola apa yang sedang kita bicarakan tadi. Selaku umat Muslim, tentu pandangan hidup Islam adalah yang terbaik. Bayangkan saja jika Sang empunya industri tadi adalah seorang yang beradab, juga para penguasa yang memberikan dukungannya adalah orang yang baik. Pasti hal yang demikian bisa diminimalisir.
Persoalannya, masalah ini adalah tanggungjawab semua penduduk bumi yang memiliki pandangan berbeda-beda. Namun demikian, menjadi manusia sebenarnya saja sudah cukup untuk bisa melihat persoalan apa yang tengah terjadi, yakni bumi yang tengah berubah. Masa depan manusia sedang dipertaruhkan.
Jika cita-cita umat Muslim adalah menjadikan Islam sebagai guru peradaban dan rakhmatan lil ‘alamin, maka “menciptakan” manusia-manusia baik―termasuk para pemangku kebijakan, ilmuwan, hingga para empunya industri―adalah begitu mendesak di kondisi yang seperti ini.
Kemudian, jika suatu kedzaliman, kemaksiatan, atau sesuatu yang dilarang dibiarkan begitu saja di suatu wilayah, maka azab akan menimpa semua penghuni wilayah tersebut tak terkecuali para ahli ibadah. Hal demikian sudah dikenal dalam ajaran agama kita. Ramadhan telah berada di depan mata, jika sebulan penuh ini benar-benar bisa mendidik umat―minimal diri kita sendiri―maka semoga saja Allah menjauhkan kita dari kehancuran-kerhancuran yang tak diinginkan. Bumi sedang dipenuhi dengan ibadah-ibadah. Dzikir dan lantunan ayat-ayat al-Qur’an sedang dibacakan di berbagai belahan bumi. Apalagi, jika kebiasaan selama satu bulan ini bisa dilanjutkan di bulan-bulan berikutnya.
Selamat menikmati Ramadhan. Selamat mendidik diri. []
Viki Adi N
