Oleh: Azi Wansaka/azionesaka@gmail.com
Perjalanan haji memang fenomena yang unik. Meskipun ini merupakan fenomena tahunan yang sering terjadi, masalah-masalah yang terjadi seringkali berkutat pada hal yang sama. Kenapa? Karena memang perjalanan haji adalah fenomena yang berulang, namun tentu saja para pelakunya selalu berbeda.
Di awal masa kemerdekaan Indonesia masih sangat disibukkan dengan berbagai agenda-agenda mempertahankan Indonesia. Bahkan dalam beberapa kasus, kebijakan-kebijakan yang tidak strategis dihilangkan termasuk perjalanan haji. Tidak bisa dibayangkan betapa rindunya masyarakat waktu itu ketika harus menahan diri tidak berangkat haji di masa Pejajahan Jepang, ditambah periode revolusi fisik.
Memang pada masa revolusi fisik, tidak serta merta perjalanan haji di hilangkan. Dalam beberapa kesempatan perjalanan haji tetap dilakukan Indonesia. Proses perjalanan haji tersebut dikenal dengan Misi Haji Indonesia yang bertujuan untuk menjaring kekuatan Internasional, terutama Timur Tengah.
Sebenarnya masih ada satu lagi catatan perjalanan haji yang dilakukan. Bukan oleh Pemerintahan Indonesia, melainkan oleh orang Belanda sendiri. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menarik simpati para penduduk Indonesia.
Setiap masyarakat yang berangkat dengan menggunakan kapal-kapal Belanda ini kelak dikenal dengan sebutan Haji Nica. Kebanyakan para jamaah yang hadir berasal dari daerah jajahan Belanda di Timur dan Kalimantan yang menjadi basis pendudukan Belanda.
Pada awalnya kebijakan Belanda ini sempat menemui hasil yang tidak memuaskan, terutama setelah adanya resolusi jihad dari K.H. Hasyim Asyhari, yang mewajibkan untuk mempertahankan Indonesia apapaun caranya.
Akibatnya di awal-awal penyelanggaraan haji oleh Belanda ini sempat tidak memenuhi target. Namun, sering berjalanannya waktu, peralanan haji yang dilakukan Belanda menemui titik terang. Masyarakat yang putus asa mulai menerima ajakan perjalanan haji oleh Belanda dan Belanda sudah mampu mempromosikan perjalanan haji hingga ke pelosok-pelosok daerah.
Meskipun secara program perjalanan haji ini cukup sukses, namun pengaruh yang diberikan tidak mampu menggoyahkan Indonesia dalam perebutan pengaruh. Kebijakan ini pun menjadi sia-sia ketika Indonesia mendapatkan dukungan dari negara-negara di Liga Arab hingga Arab Saudi dan ditolaknya misi perjalanan haji Belanda oleh Arab Saudi.
Terlepas dari apa yang terjadi, Belanda sebenarnya memberikan kebijakan yang cukup berbahaya bagi Indonesia. Di tengah berbagai polemik yang terjadi perjalanan haji oleh Haji Nica memberikan jejak-jejak perebutan pengaruh di Indonesia.

