Beberapa hari lalu, setelah kembali ke Jogja, saya mencoba membuka kembali sejarah sebelum ada Indonesia, khususnya di era Mataram (Islam) setelah ditinggal pergi raja pertama sekaligus raja masyhurnya. Ketika pemerintahan beralih ke Amangkurat II, kita akan disuguhkan kisah pilu ketika terjadi banyak pembantaian, termasuk tokoh-tokoh agama yang dianggap beroposisi dan melawannya.
Mungkin bagi kita yang kerap membaca sejarah peradaban―lebih spesifik lagi: politik atau kekuasaan―Islam, juga menemukan intrik yang mirip-mirip. Penjeblosan ke penjara, pengasingan, pembunuhan oposisi, persaingan keturunan untuk memperebutkan tahta, bekerja sama dengan asing untuk melawan saudara seiman, dan seterusnya. Kisah-kisah pilu berkaitan dengan politik dan kekuasaan seringkali membuat kita geleng-geleng.
Melompat ke zaman “modern”, zaman ketika nation state dan demokrasi digunakan, ternyata tak jauh berbeda. Konon, kebebasan dipersilakan. Tapi pada faktanya, beragam intrik kepada oposisi masih tetap dilakukan oleh pihak yang berkepentingan dan berkuasa. Dari mulai penghancuran nama baik, pelarangan organisasi/ kelompok, penangkapan, bahkan hingga penghilangan nyawa sekalipun. Semua terasa murah.
Mungkin memang begitu ketika diri manusia telah dikuasai ambisi, nafsu, atau syahwat kekuasaan. Semua akan dilakukannya demi mempertahankan bahkan meluaskannya. Imam al-Ghazali sampai menuliskan petuah agar para pemimpin rajin-rajin untuk menemui ulama, dekat dengannya, dan meminta nasihat-nasihatnya. Itu tak lain agar ambisi, nafsu, atau syahwat kekuasaannya bisa tetap terarah, terjaga, dan tak mendobrak kebenaran, akal sehat, serta hati nurani.
Seketika itu, saya teringat lirik nasyid era jadul (sepertinya lagu ini diciptakan dan dinyanyikan oleh Ghirotul Fata di era Orba):
…
Para pemimpin, mari sama-sama
belajar mendengar suara hati
agar suara rakyat pun kan terdengar jernih
…
Jika para pemimpin merenung dan mencoba mendengar suara hatinya, pasti ia akan bersedih melihat kesedihan dan penderitaan rakyatnya. Ia seharusnya memikirkan itu ketimbang berkonflik dengan para oposisinya. Namun, mendengar suara hati kadang kala tak berguna juga jika orang-orang atau kelompok yang mengitarinya telah terkuasai dan tersulut ambisi kekuasaan. Ada faktor lingkaran istana. Ketegasan, keberanian, kejujuran, dan keikhlasan adalah karakter yang harus dimiliki oleh pucuk pemimpin di sini.
Jika kita mengingat kisah Bung Karno meminta Buya Hamka―selaku ulama yang pernah disiksanya―agar memimpin sholat jenazah ketika dirinya meninggal, mungkin kita bisa tahu betapa beratnya Si Bung menanggung beban ketika tersadar dari ambisi kekuasaan yang telah membuatnya hancur.
Pada akhirnya, generasi seperti kita ini bisa belajar dari mereka-mereka yang telah pergi mendahului. []
Viki Adi N
