Mari sejenak kita melakukan perjalanan ke suatu tempat yang sangat dekat dengan kita, namun tak pernah terjangkau oleh fisik kita secara waktu.
Ya, suatu tempat yang pernah kita singgahi, sangat dekat dalam ingatan kita, mungkin dekat juga dengan tempat tinggal kita, namun sulit kita jangkau karena fisik kita tak mampu untuk kembali ke potongan lini masa bernama masa lalu.
Bernostalgia, menyusuri potongan memori lini masa lalu ketika masih berada di bangku sekolah dasar (SD) atau bahkan taman kanak-kanak (TK).
Saat jenjang masa pendidikan masa-masa itu setiap dari kita nampaknya pernah mendapat pertanyaan yang sangat familiar. Ya, pertanyaan dari Guru kita,
“Anak-anak, cita-cita kamu pengin jadi apa?”
Dan mayoritas dari kita menjawabnya dengan beragam nama-nama profesi.
Dokter, Tentara, Polisi, Guru, dan masih banyak lagi. Seiring jenjang pendidikan yang kita lalui, ada yang menjalani kehidupan dengan profesi sesuai dengan yang dicita-citakan dan terucap ketika berada di bangku TK atau pun SD.
Ada juga banyak yang saat dewasa dan berprofesi berbeda dengan cita-cita sewaktu jenjang pendidikan tersebut.
Dalam sesi sharing dan hearing yang pernah saya sampaikan ke adik-adik SMA dan kuliah, hanya ada satu anak dari sekian banyak dari mereka yang cita-cita profesinya masih sama dengan cita-cita semasa TK bahkan saat ini sedang menjalani kuliah nya, walaupun jurusan kuliah yang diambilnya tidak satu linier rumpun keilmuan dengan cita-cita nya. Menurut saya, anak tersebut tidak keliru. Ya, tidak ada yang keliru dengan cita-citanya. Selain anak tersebut, cita-cita nya sudah berganti seiring berjalannya lini masa dan jenjang pendidikan.
ermasuk saya yang saat itu bersekolah di TK Bhayangkari ingin menjadi polisi dan profesi yang saat ini dijalani sebagai guru tentunya berbeda. Menyesal? Kecewa? Mungkin pernah.
Seiring bertumbuh dan berjumpa dengan banyak orang dan beragam profesi, kudapati suatu titik temu tentang cita-cita, profesi, dan visi.
Mungkin profesi sudah berbeda dengan yang dicita-citakan saat masih TK atau SD atau bahkan SMA. Namun yang perlu dipegang erat dan kuat adalah visi. Agar visi tetap terjaga kuat maka visi itu perlu berbasis nilai. Nilai kehidupan dan kebaikan.
Misalnya cita-cita nya ingin jadi dokter, maka nilai kebaikan yang dipegang erat adalah “apa yang hendak dilakukan saat sudah jadi dokter? Membantu dan menolong orang yang sakit dan kesulitan mendapat akses pengobatan yang layak? Atau hanya sekedar jadi dokter dan berpenghasilan mapan?”.
Pengin jadi mahasiswa? Kalo sudah jadi mahasiswa hendak melakukan nilai kebaikan apa? Atau sekadar menjadi mahasiswa sampai ujung semester tanpa wisuda?
Kalau pun saat dewasa tidak jadi dokter maka nilai kebaikan tersebut tetap bisa terwujudkan. Tidak ada rasa kecewa karena profesi yang dijalani berbeda dengan cita-cita profesi yang diidam-idamkan. Nilai kebikan “membantu dan menolong orang yang sakit agar mendapat akses pengobatan yang layak” bisa tetap diperjuangkan.
Seperti halnya seorang muslim, dengan beragam profesi kebaikan yang dijalani maka tetap memiliki visi yang sama (seharusnya) yaitu meninggikan kalimat Allah SWT. Di mana pun tempatnya, kapan pun waktunya, dan dengan siapa pun partnernya. Baik saat masih seorang diri, atau pun sudah berkeluarga, bermasyarakat, bahkan dalam berbangsa maka visi itu akan tetap sama. Seperti halnya para Nabi dan Rasul, walaupun berbeda tokoh dan masa namun mengemban visi yang sama yaitu mentauhidkan Allah SWT dan memperbaiki akhlak manusia sepanjang masa karena “sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah SWT”. , ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah SWT”. Selamat berjuang kawan, melanjutkan estafet visi peradaban.
Richmawan Ibnu Achmad
