Dua Puluh Empat Jam yang Sama

Allah pergilirkan siang dan malam untuk makhluk-Nya. Semua orang memiliki waktu sama yaitu 24 jam per hari. Ada yang mengisi waktu dengan karya-karya besar. Ada pula yang mengisi dengan kesia-siaan. Ada yang bisa menyelesaikan kewajiban dengan baik. Ada pula yang bermalas-malasan.

Setiap orang memiliki kewajiban yang begitu banyak dan waktu yang terbatas. Ketika seseorang mampu menyelesaikan kewajiban dalam waktu yang terbatas maka berkahlah waktu. Hari-hari dijalani dengan produktif. “Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain.” (QS. Al-Insyirah: 7)

Allah perintahkan hamba-Nya untuk bersegera menuju pekerjaan lain setelah selesai satu pekerjaan. Sadar atau tidak, sering kali banyaknya pekerjaan dijadikan alasan untuk tidak berlama-lama dengan Al-Quran. Sekedar membaca Al-Quran saja menunggu waktu luang. Padahal interaksi dengan Al-Quran menjadi salah satu sebab Allah berkahi waktu hamba-Nya.

Menurut logika manusia, waktu interaksi bersama Al-Quran akan mengurangi jatah waktu. Jatah waktu untuk mengerjakan tugas, pekerjaan, atau kewajiban lainnya. Namun, tidak untuk seorang yang beriman. Dia yakin bahwa semakin sering berinteraksi bersama Al-Quran, semakin berkah waktu dan semakin produktif. Interaksi bersama Al-Quran sama arti berinteraksi dengan Allah. Ketika ridha dan cinta-Nya terlimpa maka semua akan mudah.

Jadi, bukan menunggu waktu luang tapi meluangkan waktu. Meluangkan waktu khusus untuk interaksi dengan Al-Quran.

Eni Astuti. Sukoharjo, 18 Agustus 2021

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *