Bukan dengan barang fana. Kau membayar dosaku. Dengan darah yang mahal. Tiada noda dan cela.
Bukan dengan emas-perak. Kau menebus diriku. Oleh segenap kasih dan pengorbananmu
Ku telah mati dan tiada. Cara hidupmu yang lama. Semuanya sia-sia dan tak berarti lagi. hidup ini kuletakkan pada misbahmu, ya Tuhan. Jadilah padaku seperti yang kau ingini
Apalah daya sebagai manusia patut berharap karena Allah adalah Sang Pemilik hati kita. Inilah iman. Kita berharap dan berharap untuk meminta kasih kepada-Nya. Nukilan diatas hanyalah syair singkat yang diciptakan oleh manusia yang berbeda golongan dengan kita, yakni umat Nasrani. Doa suci yang dijunjung tinggi pada Tuhan mereka di tempat peribadatannya sesuai prinsip dan keyakinannya. Tri hari suci (Kamis putih; Jum’at agung; malam paskah), kenaikan Isa al-masih, Pantekosta, dan natal tentunya.
Lalu bagaimana dengan Islam ? pastinya juga punya. Bahkan, banyak pintu-pintu rahmat yang bisa kita jangkau layaknya benih yang dipupuk hingga menjadi amal kebaikan. Puasa Sunnah yang tak bisa disebutkan satu per satu, ZIS (Zakat; Infaq; Sedekah), idul Fitri, idul adha, dan masih banyak lainnya. fastabiqul khairat. Kita berhak masuk ke dalam 8 pintu yang telah disiapkan oleh Allah SWT dengan tuntunan yang diturunkan oleh Baginda Rasullulah Muhammad SAW sebagai pemimpin kita di akhir zaman.
Manusia pada kodratnya sering lalai dengan tugas duniawi-Nya. Beginilah ujiannya. Islahun Nafs. Memperbaharui hati agar tenang dan tenteram itu penting bagi keselarasan hidup kita. Terus belajar menjadi manusia yang lebih baik dalam spiritual hati dan pikiran. Jikalau kesombongan, dengki, dan penyakit-penyakit itu muncul maka cepatlah kembali pada jalurnya. Jangan menjadi domba-domba yang tersesat yang tak tahu arah dan pedoman.
*Syair di atas hanya sebagai contoh. Bukan untuk membenarkan agama selain Islam.
Fadhi Qahharsyah P
