Berbaris beberapa buku di depanku dari berbagai macam tema, semuanya menarik meski beberapa judulnya membuat dahi bekernyit. Batas maksimal buku yg dipinjam tiga dan batas waktu meminjamnya sepekan.
Di harap tenang itulah quotes yang tak pernah dilupakan perpustakaan, sambil gerenyam-gerenyem, mataku berlari d atas kata-kata dan mengjengkal beberapa halaman dalam waktu 3-5 jam, sesekali menyibak gambar klasik yang di tampilkan.
Beberapa tahun kemudian bertemu dan berkumpullah saya dengan beberapa pembaca, saya heran dengan kosakata mereka yang keluar ibarat kriukan kerupuk dimulut saat lapar sementara saya tergagap seolah perenang hendak tenggelam.
Apa yang salah dengan baca buku saya? Dari sejak SD buku harian lebih banyak daripada pelajaran. Sejak SMP berbagai novel dan majalah lebih banyak dari buku paket sekolah
Sejak SMA buku cerpen dan motivasi tak pernah absen dari tas. Tapi apa-apaan ini saya merasa tertinggal 10 tahun di belakang.
Ternyata di harap tenang oleh perpustakaan itulah yang menghambat masuknya kalimat ke otak saya, mulut saya disumbat agar tak memahami materi, telinga saya tak mampu mengukur rima titik koma, dan lisan saya masih terbelit F dan P.
Di harap tenang tapi itulah sumber ketidaktenangan. Karna kita tak memahami esensi dari apa yang kita baca. Di harap tenang di perpustakaan adalah larangan keras bagi saya, bagaimanapun perpustakaan adalah tempat menambah banyak kosakata agar otak kita terjaga nutrisinya.
Di harap tenang, adalah penghambat pengangkatan derajat manusia, bukankah malaikat di suruh bersujud setelah nabi Adam AS menyebutkan banyak nama-nama (kosakata)?
Seandainya nama-nama itu mampu kita sebutkan tanpa di harap tenang tentulah generasi kita akan lebih unggul daripada generasi di negara lainnya.
Rian Amani
Majalengka 29 Agustus 2021
