Berbagi Peran

Mengingat kembali materi kajian tentang mahasiswa dan masa kini. Era revolusi industri 4.0 ini membuat manusia seakan tidak ada gunanya, semua sudah tergantikan dengan mesin ataupun robot. Setelah kita melewatkan era 3.0 ini sejak tahun 2000 ada satu permasalahan yang belum tuntas, yaitu manusianya. Kita dipaksa harus bisa menyesuaikan standar yang sudah dibuat, standar 4.0, dimana harusnya sudah mencapai hal-hal tentang kecerdasan buatan, internet of things dan digitalisasi lainnya. Kenyataannya kita masih bercengkrama dengan masalah hoaks, hate speech, status alay dan lain sebagainya.

“Mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Berarti juga, anak-anak yang tidak terdidik di Republik ini adalah “dosa” setiap orang terdidik yang dimiliki di Republik ini. Anak-anak nusantara tidak berbeda. Mereka semua berpotensi. Mereka hanya dibedakan oleh keadaan.”― Anies Baswedan, Indonesia Mengajar.

Saya teringat nasihat ini ketika memikirkan budaya kita dalam bersosial di dunia maya. Ribuan bahkan jutaan berita palsu beredar setiap harinya pada seluruh platform, dari platform chatting di Whatsapp, telegram hingga media sosial publik seperti facebook, twitter dan sejenisnya. Bagi orang-orang yang tidak terliterasi digital dengan baik, semua info yang didapat tidaklah ada bedanya dan dianggap benar. Namun bagi kita yang beruntung dapat mengenyam bangku pendidikan serta terliterasi digital dengan baik, banjir informasi yang beredar dapat kita klasifikasi mana yang sampah mana yang hikmah.

Sayangnya diantara dua tipe pengguna media sosial tersebut, masih ada tipe lain yaitu pihak yang memiliki kepentingan yang sengaja membuat berita viral fenomenal agar pengguna yang tidak terliterasi dengan baik itu membagikan tanpa pikir panjang. Inilah PR kita sebenarnya, PR sebagai kaum terdidik. Apa yang bisa kita lakukan dengan adanya masalah tersebut.

Beredarnya informasi hoaks tidak bisa kita cegah seluruhnya. Tapi menurut pakar data dan informasi, Pak Ismail Fahmi menyebutkan bahwa ada hal yang bisa kita lakukan, yaitu sebarkan saja berita baik dan benar sebanyak-banyaknya, banjiri media sosial dengan berita-berita benar. Jangan sampai kalah semangat dengan para penyebar hoaks di sisi lain dunia ini.

Kementerian Kominfo menargetkan 12,5 juta masyarakat Indonesia terliterasi digital setiap tahunnya untuk mencapai 50 juta masyarakat terliterasi di tahun 2024. Dalam rangka mendukung program pemerintah dan menunaikan kewajiban sebagai orang yang terdidik, mari kita coba semampu kita. Minimal, jika tidak bisa menuliskan sesuatu yang benar jangan pernah lagi membagikan atau bahkan menuliskan sesuatu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Dan kewajiban kami hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.” (Q.S. Yaasin: 17)

Lakukan semampu kita tanpa memaksa, mengajak tanpa melukai, tugas kita hanya menyampaikan. []

Yuri

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *