Belajar Tentang “Kita”

Kita adalah kata benda jamak yang sering ditemui dalam pelajaran bahasa Indonesia. Kata benda kita menunjukkan “orang” lebih dari satu atau kumpulan dari beberapa orang. Kali ini aku tidak berbicara tentang linguisitk bahasa atau apapun.

Aku berbicara tentang sebuah komunitas yang pastinya bisa dijumpai di setiap penjuru kampus. Aku, mayuki, tertarik membahas kampus satu ini. Ialah Universitas Cyber Indonesia (ini bukan judul film loh ya).
Mungkin bagi kamu kita adalah komunitas radikal yang diisi oleh manusia-manusia hebat. Gak sama sekali. Mereka hanyalah orang biasa. Jangan pernah belajar apa-apa di kita, tapi ambil ilmunya kita yang bisa dilakukan untuk hidup kita sendiri. tidak ada yang sia-sia. Yang sia-sia ketika kita tidak mau belajar apapun. Mereka semua bisa hebat karena mau belajar untuk dituntun. Belajar tentang menikmati sebuah rasa syukur yang diberikan oleh Allah kepadanya. Belajar tentang arti Islam yang syumul dan mutakamil. Syumul artinya keseluruhan dan Mutakamil artinya kesempurnaan.

Untuk mencapai sebuah kesempurnaan butuh proses sampai keseluruhan nilai-nilai islam itu mengalir dalam nadi. Tidak ada yang lahir menjadi orang kaya, kecuali anak Sultan (baca; orang yang kaya harta dan memiliki perusahaan dimana-mana). Semua ada porsinya. Kalau begitu caranya Mayuki juga mau jadi anak sultan. Allah memberikan ujian kehidupan sesuai dengan kemampuan manusianya. Disitulah kenikmatan belajar tentang kita. Cek aja di surah Al-Baqarah ayat 286. Bunyinya kayak gini nih.
“Allah tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. Ya Tuhan kami, jangan Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan.”

Gimana ? udah meresap belum nih dalam pikiran kamu makna dari surah diatas? Kalau belum, berarti tetap belajar terus sampai paham karena ilmu Allah terlalu istimewa buat kita sebagai manusia minimalis yang jauh dari dosa layaknya malaikat. Mayuki terus belajar untuk mempraktikkan apa itu syumul dan mutakamil dalam sebuah prinsip berkeluarga, mengajar, berbisnis, bernyanyi, dan masih banyak lagi hal-hal lainnya. Kita akan tetap menjadi kita untuk selamanya. itulah jalan tradisi perjuangan untuk menebarkan Islam yang indah dengan caranya manusia sendiri. []

Fadhi Qahharsyah Putra

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *