Oleh: D. Setiowati
Ramadhan dan Lebaran membuat kita bertemu berbagai macam makanan dan minuman. Mulai dari makanan dan minuman tradisional sampai yang modern, hampir semua tersedia pada bulan-bulan ini.
Apa yang diharapkan setelah makan dan minum? Tentu yang kita harapkan adalah kebaikannya. Sayangnya, makanan dan minuman saat ini yang sudah beragam jenisnya sangatlah berbeda dengan zaman dulu. Yang dimaksud dalam poin ini adalah beda “Kualitasnya”.
Saya dan keluarga memiliki beberapa pengalaman yang kurang baik dengan beberapa jenis makanan dan minuman. Hal ini berkaitan dengan penurunan kualitas makanan dan minuman di sekitar kami. Berikut penjabarannya:
- Ayam Lehor
Apakah Anda pernah mendengar proses pemeliharaan Ayam Lehor? Jika Anda belum pernah tahu, saya akan sedikit menggambarkannya. Bibit ayam yang kecil diberi makanan yang terdiri dari berbagai macam zat yang dibutuhkan oleh ayam untuk tumbuh besar. Dalam usia 4-6 minggu, ayam-ayam yang berukuran kecil dengan bulu kuning akan segera membesar. Bulunya akan segera tumbuh dan memutih.
Apa yang salah dalam pertumbuhan ini? Tak ada yang salah selain dengan makanan yang ayam konsumsi. Pakan ayam biasa (voer) tidak terbuat dari 100% bahan-bahan alami. Banyak bahan-bahan kimia buatan yang ditambahkan sehingga membuat ayam potong menjadi kurang sehat untuk dikonsumsi terlalu banyak oleh manusia.
Hal inilah yang membuat ayah kami enggan untuk makan daging ayam potong sembarangan. Karena beliau paham betul bagaimana si ayam yang masih sebulan ini bisa begitu besar dan gendut.
Ada sebuah kisah lucu yang pernah kami dengar dari Simbah. Beliau memelihara ayam kampung yang biasa diberi makan bekatul dan nasi sisa. Suatu hari, tetangga membeli seekor ayam lehor. Ayam lehor tersebut berjalan-jalan di sekitar rumah Simbah, bermain bersama ayam kampung yang usianya sama (sekitar satu bulan) dengan panjang badan kurang lebih 15 cm. Tentu sangat jauh perbandingan berat badannya dengan ayam lehor yang memiliki panjang sekitar 25 cm. Tanpa sengaja, si ayam kampung menabrak ayam lehor dan seketika terdengar bunyi “Piyek” dengan keras dan ayam lehor langsung terguling ke tanah. Apakah Anda paham artinya? Artinya walaupun ayam lehor terlihat begitu besar, gendut, dan gemoy, ternyata mereka masihlah ayam kecil yang baru berusia satu bulan. Bahkan kekuatan mereka kalah dengan ayam kecil yang beratnya hanya seperempat kali dibanding berat badannya.
Kisah ini semakin memberi gambaran mengapa ayah kami tidak menyukai ayam lehor. Beliau lebih memilih konsumsi ayam kampung karena lebih sehat makanannya. Bisa kita katakan bahwa ayam kampung itu organik, sedangkan ayam lehor tidak. Apakah ada peternak yang memberikan pakan organik untuk ayam lehornya? Bisa jadi, sekarang mulai banyak orang peduli dengan kesehatan sehingga mengarah pada pembuatan pakan organik. Namun, tentu jumlahnya masih terbatas.
Bersambung ke part 2….
