Sahabat, bukankah Rumah adalah sebuah tempat yang istimewa bagi penghuninya? Ya, Rumah yang nyaman adalah tempat pulang terbaik bagi pemiliknya. Tak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, rumah adalah suatu tempat pembangunan peradaban.
Sahabat, kali ini akan kuperkenalkan sebuah rumah di pelosok desa. Sebuah rumah yang menghadap ke utara. Ini rumah orang Jawa pada umumnya yang menggunakan kayu dan bilik bambu sebagai dinding serta genteng dan seng sebagai atapnya. Rumah ini tergolong rumah yang sederhana di tengah perkembangan teknologi pembangunan yang semakin melesat. Lalu, apa istimewanya rumah ini? Apa yang membuat rumah ini istimewa bagiku? Baik, akan kututurkan sau persatu.
Aku tidak ingat kapan tepatnya mulai berkunjung ke rumah ini. Yang jelas, sejak aku kecil. Sahabat, saat kau bertamu ke rumah ini, baru mengucap salam saja, akan kau dapati pemiliknya menyambutmu dengan ramah. Mungkin juga mereka akan menyapa namamu dan menanyakan dari mana kau pergi sebelum ke rumah itu. “Eh, Gandi. Kangendi Gan?”-menggunakan bahasa dan logat Ngapak- (artinya: “Eh, ada Gandi. Dari mana Gan?”). Biasanya para tamu akan menjawab, “Saking griyo mawon, Mbah” (“Dari rumah saja, Mbah”). Begitu hangatnya sambutan yang akan kau dapatkan. Tak peduli apa kastamu dan latar pendidikanmu. Semua diperlakukan sama.
Setelah dipersilahkan duduk, kau akan dibuatkan minuman manis. Tergantung usiamu. Kopi untuk para Bapak dan Teh untuk para Ibu. “Kalau belum jadi Bapak atau Ibu?” Kopi untuk laki-laki dan teh untuk perempuan. Atau sesuai kesukaanmu. Tak hanya minuman, semua makanan yang ada di rumah ini bisa kau cicipi. Mereka akan tersaji di hadapanmu sebelum kau meminta. Lodhong-lodhong tertata rapi seperti mau lebaran. “Apa lagi saat lebaran?” Tentu akan lebih panjang barisan lodhong (toples) di hadapanmu.
Mereka juga tidak akan ragu untuk menawarimu makan. “Wis maem urung, Gan? Kae maem karo gorengan bogo.” (“Sudah makan belum, Gan? Itu makan pakai Ikan Betok goreng”). Kedekatan para tamu dengan keluarga ini membuat mereka tak segan untuk makan jika memang sedang lapar atau sekadar ingin mencicipi lauk pauk yang tersedia. Pasalnya, masakan di rumah ini dibuat dengan bumbu yang kaya rempah. Dan tentunya, terasa bumbu c-i-n-t-a di dalamnya. Padahal, konon, koki di rumah ini jarang menakar garam untuk memasak. “Asal disrampang uyah”, katanya. Artinya, garam yang dimasukkan pun sesuai takaran tangan. Tidak seperti resep internet yang ditakar dengan timbangan. Lebih dari itu, semua ditakar dengan hati. Inilah resep makanan sejati.
Setelah selesai makan, kau tidak perlu merasa khawatir. Mereka tidak akan membiarkanmu diam, termangu, atau membisu saat kau sebenarnya tak punya tujuan untuk diutarakan saat datang ke rumah itu. Ya, hanya ingin main dan bersilaturahmi saja. Mereka pasti akan menanyakan kabarmu dan kabar keluargamu di rumah. Mereka juga tak segan untuk bercerita, menceritakan kejadian-kejadian kecil di tengan keseharian mereka.
Ketika kau sudah akan pulang dan berpamitan, mereka akan bilang. “Ora nginep kene?” (Nggak mau nginep di sini?”). “Mboten Mbah, ngenjang sekolah.” (“Tidak Mbah, besok sekolah”). Dan sebelum kau beranjak pulang, mereka akan membungkuskan makanan apa saja yang bisa kau bawa pulang. Tak begitu mempedulikan sisa makanan di rumah itu, mereka tidak akan membungkus hanya sedikit untukmu. Pasti akan dibungkuskan juga untuk keluarganmu di rumah. Dan, ini yang paling jarang aku temui saat ini. Mereka akan mengantarmu ke luar rumah, dan akan menunggu sampai kau pergi, baru mereka masuk rumah lagi. Padahal, di tempat lain tuan rumah bisa saja menutup pintu sebelum kau meninggalkan halaman rumahnya.
Sebanyak apakah uang mereka? Seluas apakah sawah dan pekarangan mereka? Jawabannya adalah, mungkin tak sebanyak serta seluas sawah dan pekaranganmu. Ya, mereka hanya buruh tani yang tak punya lahan, bekerja pada orang. Namun mereka tidak pernah berhenti untuk berbagi. Mereka benar-benar telah mengamalkan ajaran para Nabi. Sungguh belum pernah kutemui dalam hidupku, ada orang yang memuliakan tamu seperti orang-orang di rumah ini memuliakan tamunya. Engkau akan merasa diperlakukan seperti orang yang istimewa.
Dari rumah ini juga kau akan belajar untuk manawari makanan kepada semua orang yang ada dihadapanmu, serta berjalan merendah di hadapan orang yang lebih tua sebagai tanda penghormatan terhadap mereka. Bertutur kata sopan dan tak berkata yang mengandung unsur membentak kepada yang lebih tua. Kebersamaan dan kesahajaan yang begitu indah tercipta di rumah ini. Bukankah ini merupakan ajaran yang patut kita ikuti?
4/30
Oleh: D. Setiowati
