Oleh: Azi Wansaka/azionesaka@gmail.com
Judul ini berawal dari sebuah pertanyaan singkat dari dua orang staff di organisasi yang sempat masih saya emban beberapa bulan yang lalu. Obrolannya singkat, tapi memberi banyak renungan dan pembelajaran mengenai bahwa tiap manusia punya kehidupan yang rumit sekali.
Pertanyaan tersebut seputar topik “Mas kapan nikah?”. Tak tanggung-tanggung pertanyaan tersebut ditanyakan pada hari dan waktu untuk tidak terlalu jauh. Heran, kok bisa dua staff yang biasanya menjadi obyek bulian ternyata memberikan pertanyaan yang harusnya jauh dari jangkauan mahasiswa yang kunilai masih harus fokus pada kegiatan organisasi dan akademik.
Topik ini kemudian, kujadikan sebagai sebuah bahan sambutan sidang akhir organisasi dan Kultum Subuh di salah satu masjid di Condongcatur, Yogyakarta, sebut saja Masjid Baiturrahman namanya.
Kuceritakan persis jam dan waktu ketika pertanyaan tersebut dilontarkan, ku urai dengan bahasan yang mudah dimengerti, lalu ku korelasikan dengan sebuah filosofi stoisisme atau filosofi kebahagiaan.
Bagi sebagian besar orang yang pernah membaca buku kumpulan Filsafat Yunani pasti pernah mendengar filosofi ini. Filosofi Stoisisme dicetuskan oleh seorang Filsuf Yunani bernama Zeno. Ini adalah sebuah filosofi kebahagiaan, yang isinya mengenai keselarasan hidup antara diri dan alam.
Dalam filosofi ini juga dijelaskan mengenai fakta bahwa kebahagiaan yang sering kita cari terkadang justru berasal dari dalam diri kita sendiri, bukan justru dari luar.
Filosofit ini menjelaskan bahwa terkadang dalam kehidupan hanya ada dua hal yang akan terjadi, yang pertama hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan dan hal-hal yang bisa kita kendalikan.
Pertanyaan “Mas kapan nikah?” adalah contoh dari hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Kita tidak mungkin bisa mengendalikkan imajinasi dan rasa ingin tahu banyak orang. Akan sangat sulit jika kita harus mengendalikkan setiap opini yang keluar dari orang lain.
Lalu apa yang bisa kita kendalikkan? Yang bisa kita kendalikkan sekarang adalah bagaimana cara kita menanggapi dan merespon pertanyaan dari opini orang lain.
Seperti itulah stoisisme, berusaha fokus pada apa yang bisa kita kendalikan yang berasal dari dalam diri sendiri dan mengabaikan hal-hal dari luar.
Dalam Islam, Stoisisme atau filosofi kebahagiaan punya kunci tersendiri. Sayangnya banyak dari kita yang tidak memahami dan menayadari bahwa kunci tersebut adalah kunci kebahagiaan yang kita cari selama ini.
Kuncinya apa? Kuncinya adalah “Bersyukur dan Bersabar”. Bukankah Allah sendiri yang sudah mengatakan bahwa ketika seorang manusia bersyukur terhadap nikmat yang diberikan Allah akan menambah nikmat tersebut untuk hamba Nya. Bersyukur dengan keadaan dan kondisi yang Allah tetapkan.
Kenapa harus bersabar? Bukankah Allah juga sudah menjanjikan bagi setiap hamba Nya yang bersabar maka Allah akan memberikan surga bagi hamba Nya. Setiap cobaan dan ujian memang tidak selamanya hal-hal yang sulit, terkadang hal-hal yang menyenangkan juga bagian dari ujian.
Terkadang memang dalam kehidupan tidak semua hal terjadi sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tidak semua hal terjadi sesuai dengan yang kita ekspektasikan. Tak jarang pula kenyataan yang tak sesuai ekspektasi membuat banyak kebahagiaan kita berkurang. Dan tak jarang pula banyak dari kita yang seringkali berusaha mengejar kebahagiaan dari luar, padahal kebahagiaan tersebut ada dari dalam diri kita masing-masing.
Jadilah kuat dan jadilah bahagia….
