Balada Guru Muda #1

Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan bahwa Balada merupakan sajak sederhana yang mengisahkan cerita rakyat yang mengharukan, kadang-kadang dinyanyikan, kadang-kadang berupa dialog. Lalu, apa itu sajak? Dalam KBBI, Sajak adalah bentuk karya sastra yang teratur dan terikat dalam baris-barisnya. Ok, sampai sini paham? Kalau belum paham, rekan sekalian bisa mengingat puisi yang sering dibacakan oleh Najwa Shihab yang indah itu. Ya, kita bisa menyebut sajak sebagai puisi bebas yang tidak terikat aturan tertentu namun pemilihan katanya berirama. Jadi, Balada adalah puisi, atau bisa juga dialog yang berirama.

Ketika masih SD, Bapak dan Ibu guru sering bertanya kepada para siswa, “Kalau sudah besar mau jadi apa?”. Anak-anak dengan entengnya akan menjawab ingin jadi dokter, pilot, pemain sepak bola, tentara, polisi, atau jadi guru. Anak-anak menjawab dengan penuh keyakinan, tanpa memikirkan persyaratan dan proses menjadi yang mereka inginkan.

Setelah memasuki masa SMA, apalagi di kelas dua belas, barulah anak-anak ini mulai berpikir mengenai persyaratan yang harus mereka persiapkan untuk menggapai cita-cita mereka. Pada kenyataannya, tidak semua yang mereka cita-citakan di SD direalisasikan melihat daftar persyaratan yang ada. Ingin jadi dokter, tapi mata sudah minus banyak. Ingin jadi polisi, tinggi badan tidak cukup. Ingin jadi pemain sepak bola, ternyata sekolahnya mahal juga. Nah, terakhir, posisi yang paling dianggap aman dan memungkinkan adalah menjadi guru.

Ya, jadi guru syaratnya mudah, hanya satu, “MAU”. Biaya pendidikan untuk menjadi seorang guru pun tergolong lebih rendah dibanding ingin menjadi dokter, polisi, pilot, arsitek, atau profesi lainnya. Tidak ada batasan usia, tinggi dan berat badan, maupun kesehatan mata. Akhirnya, banyak lulusan SMA yang memutuskan untuk masuk ke sekolah keguruan.

Siswa-siswa tadi memulai karir sebagai MAHASISWA dan belajar kurang lebih selama empat tahun untuk mendapat gelar Sarjana Strata Satu atau S-1. Waktu empat tahun itu dilewati dengan penuh percaya diri, “Setelah lulus, aku akan jadi guru”.

Setelah lulus, barulah para Sarjana Pendidikan ini mulai mencari pekerjaan. Tentu saja, mereka akan melamar ke sekolah. Sampai di sini masih konsentrasi? Baik, sebelum lanjut, supaya kisah ini lebih hidup, saya akan menggambarkan seorang tokoh bernama “Budi”, yang ini sama sekali tidak berhubungan dengan “Budi” mana pun yang saya kenal. Alias tokoh fiktif.

Si Budi adalah seorang lulusan sarjana pendidikan (S-1) jurusan Sejarah yang baru lulus, atau yang sering kita kenal dengan istilah fresh graduate. Budi pulang ke kampung dengan mendapat gelar Cumlaude dari kampusnya karena ia tergolong mahasiswa yang rajin.

Selain ingin menjadi guru, si Budi punya cita-cita menjadi Pegawai Pemerintah – PNS – karena meyakini bahwa dengan menjadi PNS, ia akan bisa mencukupi kebutuhannya dan kebutuhan keluarganya. Bagaimana tidak? Gaji pertama PNS golongan 3a saja saat ini sekitar Rp. 2.500.000,00 (tergantung lokasi penempatan). Ini memang tidak seberapa. Tapi kalau sudah sertifikasi, si Budi akan mendapatkan tunjangan 3x besar gajinya dalam tiga bulan sekali. Betapa enaknya menjadi guru dalam bayangan Budi. Lelah dan letihnya belajar selama ini akan terbayarkan.

Singkat cerita, Budi memutuskan untuk mendaftar ke sekolah yang dekat dengan rumahnya. Karena Budi ingin menjadi PNS, maka ia hanya mendaftar ke sekolah negeri saja. Dalam pikirnya, supaya lebih cepat dan lebih mudah diangkat menjadi PNS.

Satu-dua hari, Budi mulai memasukkan lamaran ke SMP dan SMA Negeri terdekat dari rumahnya. Hari demi hari, Budi menunggu panggilan kerja. Tiada disangka, tiada diduga, tak satupun dari surat lamaran Budi yang membawa kabar gembira. Akhirnya, terpikirlah ide untuk melamar ke sekolah swasta sembari menunggu panggilan dari sekolah negeri. Budi memasukkan lamaran ke beberapa sekolah swasta di dekat rumahnya.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Apa yang diinginkan Budi untuk mengajar di sekolah bisa tercapai. Ia diterima sebagai Guru Sejarah, walaupun di sekolah swasta yang tidak termasuk sekolah favorit. “Tidak masalah”, dalam hati ia berkata. Nah, karena si Budi sudah menjadi guru, kita akan menyebutnya “Pak Budi”.

Well, Pak Budi benar-benar menikmati mengajar sebagai guru di sekolah. Beliau termasuk guru yang memiliki dedikasi tinggi. Berangkat tepat waktu, mengajar dengan hati, melaksanakan tugas dan kewajiban dengan baik.

Satu bulan berlalu. Ada yang mulai janggal dalam hati Pak Budi. Apa itu? Ya, sesuatu yang ditunggu-tunggu, gaji bulanan. Tanggal satu, dua, tiga, empat, lima. Ternyata oh ternyata, Budi baru mendapat gaji setelah tiga bulan ia mengajar. Itu pun tidak seberapa. Sama sekali tidak bisa diperhitungkan dengan kerja kerasnya selama ini. So sad.

Core of the core is (baca: intinya adalah) keadaan guru muda yang masih fresh graduate kebanyakan tidak sama seperti apa yang mereka impikan selama kuliah. Ada hiruk pikuk masalah (terutama masalah ekonomi) yang harus dihadapi oleh guru-guru tersebut. Apa lagi jika mereka mengajar ke sekolah swasta yang siswanya sedikit. Tentu kita sudah sering mendengar kondisi ini dialami oleh banyak guru honorer di sekolah selama bertahun-tahun mereka mengajar. Memang tidak semua guru bernasib sama seperti Pak Budi, namun banyak guru yang demikian. Ini memang menjadi salah satu masalah pendidikan di Indonesia yang belum teratasi. Dengan adanya program P3K, kondisi ini diharapkan akan berangsur membaik.

Lalu, apakah Pak Budi harus berhenti menjadi seorang guru? Itu terserah Pak Budi, mau memilih bekerja sebagai apa. Tapi, di sinilah keikhlasan seorang guru diuji. Istilah “Guru, Pahlawan tanpa Tanda Jasa” ternyata masih bisa digambarkan dalam kondisi saat ini. Bedanya, saat ini banyak juga guru yang sudah mapan dan tidak kesulitan secara ekonomi.

Bukan bermaksud menakut-nakuti. Sama sekali tidak. Saya hanya ingin menggambarkan salah satu realita yang ada. Bahwa siswa-siswa yang ingin jadi guru harus bisa mengantisipasi apa pun yang terjadi. Mereka harus siap dengan fakta dan semua kemungkinan yang akan terjadi.

Namun, tidak perlu takut untuk memutuskan menjadi seorang guru. Bukankah mendidik dan mencerdaskan anak bangsa adalah suatu pekerjaan yang mulia? InsyaAllah, Allah akan menolong orang-orang yang baik hati. Jika bukan dengan uang, mungkin dengan tubuh yang sehat, anak-anak yang cerdas, keluarga yang berkah, atau relasi yang banyak. Jadi, menjadi guru tidak hanya dilihat untungnya dari segi finasial saja.

Saran saya, para guru yang belum mendapat upah yang sesuai perlu bersabar. Barangkali beberapa waktu selanjutnya mereka akan mendapat panggilan dari sekolah lain yang upahnya lebih tinggi, atau bisa juga diangkat menjadi PNS (sekarang P3K). Atau para guru bisa mencari sambilan yang lebih menguntungkan agar dapat memenuhi kebutuhan. Dan saya yakin, kebanyakan mahasiswa memiliki niat awal menjadi guru adalah untuk mengajar, bukan mencari kekayaan.

Sebentar-sebentar, kalau diperhatikan lagi, di mana letak korelasi antara judul “Balada Guru Muda-1” dengan isi essay ini? Sepertinya tidak ada sajak yang berirama? Memang, sengaja saya beri judul seperti itu karena saya belum menemukan judul lain yang lebih baik dan lebih menarik dari judul ini. Piss. Dan semoga akan muncul Balada Guru Muda yang kedua, ketiga, dan seterusnya.

Demikian, mohon maaf dan Terima kasih 

Dewi Setyowati

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *