Ada yang sudah menonton film “King Richarda”? Gambaran sedikit tentang film ini adalah seorang ayah yang memiliki cita-cita menjadikan anak perempuan nya sebagai atlet Tennis dunia. Segala hal ia upayakan untuk mewujudkannya, bahkan dari anaknya masih belia. Jika kita ikuti film ini maka akan sampai pada satu hal bahwa menjadi orangtua tidak hanya mencukupi materi bagi anak-anaknya, namun menjadi orang tua berati juga harus menjadi coach bagi anak² nya. Mudah? Tentu tidak kawan. Menjadi seorang coach berati harus bisa menempatkan dalam beberapa kondisi, kapan musti mengajari, kapan musti menyemangati, kapan musti melarang dan lain sebagainya demi kebaikan ‘anak didiknya’. Tentunya hal ini akan menyita banyak pikiran, waktu dan perasaan. Maka butuh partner kuat lagi tangguh untuk bisa menjalani kemudian melaluinya.
Maka awal mula sebuah ikatan bukan hanya pada rasa, tapi Visi dan Misi jangka panjang yang saling berkesepakatan. Mustahil memang untuk sama dalam pelaksanaannya, karena setiap kepala mempunyai cara berfikir yang berbeda. Tapi perlu diingat perbedaan itu ketika menuju pada Visi dan Misi yang sama akan memunculkan banyak ide dan cara untuk mencapai nya, hal ini menjadi suatu hal yang tidak hanya menarik namun juga asyik.
Film ini juga mengajarkan kita bahwa pendamping hidup itu bukan suatu hal yang asal-asalan. Pendamping hidup bukan hal yang remeh temeh. Maka jadilah pribadi yang bukan juga asal-asalan, sehingga Allah pun ‘mengizinkan’ dan menghendaki diri kita untuk bisa ‘memilih’ pendamping yang tangguh sehingga saling menguatkan. Kita bisa lihat Betapapun kuatnya Richard, perlu Oracene sebagai pengingat ketika dia telah terlewat batas, dan menjadi peneduh ketika dia berkeluh. Menjadi pribadi sebagaimana Richard tentu tidaklah mudah, banyak hal yang harus dia hadapi. Kemudian menjadi sosok Oracene sebagai pendamping dan penguat bukanlah perkara mudah ketika harus bersanding dan berhadapan dengan segala mimpi-mimpi besar seorang Richard. Butuh keteguhan dan ketangguhan dari keduanya.
Dari sini kita juga tahu bahwa ketika membangaun sebuah ikatan, tidak bisa berdasar pada targetan atau harapan orang lain. Sejatinya kelak mereka hanyalah penonton. Mereka tidak memiliki tanggung jawab terhadap apa yang kita jalani. Sukses atau tidaknya episode kehidupan kita, berjalan sebagaimana yang telah sutradara sekenariokan. Sekali lagi mereka hanya penonton, mereka boleh berbicara dan berkomentar apapun, namun jalan cerita hanya hak sutradara dan bagaimana para pemain memaksimalkan dan bertanggung jawab atas peran yang diberikan.
Maka apakah patut pemain mengikuti apa yang dimau penonton? Jawabnya adalah tidak, pemain hanya akan menjalankan skenario dari sang sutradara. Ketika sutradara sudah memutuskan untuk lanjut pada episode selanjutnya, sebagai pemain yang profesional tentunya akan menjalankan perannya, tanpa harus disuruh oleh penonton. Pemain yang baik juga percaya bahwa sutradara menyiapkan skenario hebat untuk episode² selanjutnya. Dengan demikian harusnya desakan atau pun komentar penonton bukanlah suatu hal yang perlu dirisaukan oleh seorang pemain. Namun yang harus pemian lakukan adalah terus belajar, mempersiapkan diri dan mempelajari sekenario untuk episode kehidupan selanjutnya, sampai sutradara mengatakan layak untuk tayang.
Maka ada kemampuan yang harus dimiliki oleh seseorang pemain. Apakah itu? menjadi pemain haruslah bijak dalam menghadapi dan menanggapi komentar. Seorang pemain harus memiliki pemikiran kritis sehingga bisa memilah dan memilih, kira-kira komentar mana yang perlu diperhatikan kemudian direnungkan, dan komentar mana yang perlu diabaikan. Jangan semua komentar diterima begitu saja, jika komentar itu berupa kalimat yang menjatuhkan abaikan, tapi sekiranya komentar itu berasal dari sosok yang mempunyai otoritatif dengan kalimat yang membangun, bisa menjadi bahan renungan dan efaluasi untuk perbaikan.
Menjadi pemain juga harus sadar, jika alur jalan kehidupan setiap manusia tidak akan pernah sama satu dengan lainnya. Cara menghadapi permasalahan pun tak sama, maka tak patut melakukan perbandingan, mencoba menyatukan atau bahkan menyamakan dengan cerita hidup orang lain. Fokus pada visi misi, akan mengantarkan seseorang menikmati dan memaksimalkan segala potensi dalam menjalankan peran sebagai pemain kehidupan. Layaknya Richard dan Oracene yang pada akhirnya keduanya mampu menggambarkan kolaborasi Indah antar pemain, mempu ‘menerjemahkan’ sekenario kehidupan, sehingga penonton paham bagaimana alur cerita dan mendapatkan pelajaran berhaga didalamnya.
Anis Ansani
