Penjajahan dan Organisasi Perlawanan

Ketika membuka lembar sejarah mengenai penjajahan, deritalah yang kita ingat. Namun, penindasan beserta dampaknya terhadap negeri kepulauan ini pada akhirnya seperti seperti bom waktu. Kondisi umat yang layak dijajah―seperti istilah Malik ben Nabi―justru seiring berjalannya waktu malah berbalik menjadi pemicu kebangkitan.

Sebenarnya kita cukup beruntung, negara kita yang dulu disebut Hindia Timur ini sedari awal telah menumbuhkan perkumpulan modern yang diinisiasi oleh anak-anak pribumi. Hal ini cukup berbeda dengan negeri sebelah, yakni dunia Melayu yang “diampu” oleh Inggris yang mana perkumpulan modern di masa penjajahan sama sekali tak tumbuh. Selain itu, barangkali faktor politik etis (Belanda) juga sedikit banyak mempengaruhi.

Penjajahan memang melahirkan apa yang dinamakan modern di negara kita. Termasuk perlawanan melalui organisasi-organisasi (versi modern). Kemunculan Muhammadiyah misalnya, pendirinya yakni Kyai Dahlan sampai dianggap Kyai kafir dan istilah negatif lainnya. Istilah hari ini mungkin kebarat-baratan. Pasalnya Kyai Dahlan menggunakan perangkat-perangkat modern yang diciptakan oleh orang kafir (dalam hal ini maksudnya Belanda, Sang penjajah). Tetapi lucunya, kaum tradisionalis yang sebagian pengikutnya pernah mengkritik Kyai Dahlan pada akhirnya juga mendirikan organisasi versi modern, yakni Nahdlatul Ulama (NU).

Di tengah-tengah masa antara Muhammadiyah dan NU, berdiri pula Syarikat Islam (SI) yang berawal dari Syarikat Dagang Islam (SDI). Bahkan pada masa selanjutnya, khusus mengenai politik, SI menjadi penyalur suara terbesar dengan menggandeng banyak organisasi Islam termasuk dua yang telah disebutkan tadi. Wacana ‘pemerintahan sendiri’ juga dilontarkan SI pada masa kolonialisme. Memang terdengar gila, tapi begitulah faktanya.

Kultur organisasi inilah yang sebenarnya membuat dunia intelektual, sosial, dan politik di negara kita sampai saat ini terus tumbuh, berkembang, dan hidup. Jika suatu organisasi terengah-engah, tak lagi mampu menjalankan cita-citanya, dan jika dirasa tak bisa lagi diperbaiki dari dalam, atau karena sebab lainnya, maka akan ada “perpecahan” kemudian muncul organisasi pembaharu, dan seterusnya. Kultur ini nyatanya terus menerus terjadi sepanjang sejarah negeri kita sampai masa ini. Kita tak perlu mengomentari soal “perpecahan” itu. Toh faktanya, mereka juga masih berjuang dan bercita-cita sama. Lihat misalnya ketika Agus Salim memilih keluar dari Partai Syarikat Islam lalu mendirikan Partai Penyadar (dengan ejaan masa kini). Yang jelas dan perlu kita garisbawahi adalah bahwa kultur organisasi semacam inilah yang akan menjadi jantung pengkaderan kaum intelektual dan aktivis (sekaligus). Dua “profesi” ini adalah sesuatu yang biasa di masa itu.

Dari sini kita bisa merasakan bahwa darah intelektual sekaligus aktivis seharusnya mengalir dalam anak-anak yang aktif di organisasi keislaman. Karena pada faktanya, jarang sekali organisasi hari ini yang murni muncul karena pikirannya sendiri. Bisa dipastikan ada genealogi pemikiran dari organisasi-organisai yang pernah ada sebelumnya, bahkan sampai ada yang mengklaim keturunannya. Jika kini kita tidak lagi hidup di masa penjajahan atau kolonialisme seperti masa lalu, itu bukan berarti kita harus membuang baju intelektual dan aktivisme. Karena pada faktanya, rasa-rasa kezaliman, penindasan, semi-semi otoritarianisme masih saja ada di zaman kini. Dengan begitu, tantangan pembebasan atau liberasi―meminjam istilah Kuntowjioyo―masih terus dan perlu diupayakan. Perlawanan-perlawanan terhadap sesuatu yang dianggap buruk―termasuk dalam ranah sosial dan politik, umat Islam masih sangat berkepentingan. Setidaknya, organisasi-organisasi (Islam) menjadi salah satu penanam dan penumbuh bibit serta penyebar kebenaran.

Dengan kultur yang telah terbangun dari masa lalu itu, sudah selayaknya dua “profesi” yang disebutkan tadi tak pernah dilepaskan, apalagi bagi mereka yang aktif dalam keorganisasian, aktif mendidik (umat) manusia, dan semacamnya. Jikalau satu dari dua ini hilang, malaise akan terjadi pada organisasi umat selaku jantung pengkaderan dan penyebar syiar. []

Viki Adi Nugroho

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *