Pagi ini pekan terakhir untuk materi KAWAN sebelum Ramadhan dengan ustad Akmal Sjafril sebagai pembimbing. Apa itu KAWAN? KAWAN kepanjangan dari “Kuliah Whatsappan”. Kalau buat saya yang emang metode belajar nya rada ribet yaitu membaca, memahami dan mendengar ini sangat menarik. Kenapa?
- 1 tema di sampaikan dalam sepekan.
- Karena 1 pekan 1 tema jadi materi yang diberikan oleh Ustad tidaklah di bombardir.
- Bisa membacanya berulang². Karena ada materi yang ditulis.
- Ada ulasan secara langsung melalui zoom meeting diakhir pekan nya. Jadi bisa mendengar langsung penyampaian ustad Akmal.
Pembelajaran dengan metode seperti ini sangat membuat saya nyaman. Karena belajar pada prinsipnya adalah pelan² dan kalau bisa mendalam. Ya kurang lebih itu yang saya rasakan selama belajar di KAWAN. Seru, dan seru sekali!
Pagi tadi tema KAWAN adalah “Menyambut Ramadhan Terbaik”. Alhamdulillah dapat insight² baru, salah satunya adalah bahwa Shaum itu jika dipahami lebih lagi berbeda dengan puasa. Mungkin puasa bisa di lakukan makhluk lain layaknya ulat yang puasa (menjadi kepompong) sebelum menjadi kupu², atau Beruang yang di musim dinginnya hanya akan berhibernasi dan tidak makan. Tapi yang perlu di catat binatang tersebut melakukan puasa karena emang siklus hidupnya yang seperti itu, sedangkan manusia tidak. Ketika manusia memilih untuk puasa maka dia sebenarnya ada pilihan untuk menjalankan atau tidak.Disinilah mengapa Shaum itu hanya untuk manusia yang beriman. Karena dalam Shaum tidak hanya puasa saja tapi juga menahan diri dari hal² yang mengurangi pahala puasa misalnya ghibah, melakukan hal² yang kurang bermanfaat dll.
Maka banyak orang yang salah ‘Merasa’. Merasa sudah sukses Shaum 1 bulan full, namun hakikatnya mereka hanya menahan lapar dan dahaga. Apakah puasanya sah ya sah aja, tapi apakah mereka benar² menjadi seorang pemenang?. Berkenaan dengan hal ini menarik sekali apa yang ustad Akmal sampaikan, beliau menyampaikan “jika ibarat lomba, hanya sedikit yang menjadi pemenang sedangkan yang mencapai garis finish banyak”. That’s it ya bener kan ya setiap yang ikut lomba pasti banyak yang sampai di garis finish, yang berguguran ditengah jalan juga ada, tapi emang hanya sedikit yang menjadi pemenang. Maka tak heran ketika orang dengan mencapai finish tanpa menjadi pemenang merasakan hal yang biasa² saja, tidak merasakan ‘kecanduan dan merindukan’ perlombaan berikutnya. Sedangkan bagi pemenang dia akan sangat merindukan dan mempersiapkan bekal untuk lebih sukses di perlombaan berikutnya. Maka tak heran bagi para ‘pemenang’ pasca ramadhan pun tetap semangat menjalankan amalan² kabaikan.
Bagimana Ramadhan kita tahun ini? Mau menjadi peserta atau tidak? Jika mau jadi peserta peserta yang seperti apa? Apakah yang gugur di tengah jalan? atau hanya peserta yang sampai garis finish? Atau sebagai pemenang?. Pilihan ada pada kita masing-masing, dan yang perlu di catat perlombaan puasa ini bukan untuk unjuk gigi apa lagi perlombaan pamer, tapi ini untuk kita sendiri kepada Allah.
Selamat Ramadhan. Mohon maaf jika saya ada salah. Yuk, terus semangat Bertumbuh.
Anis Ansani
