Simbah dan Kaum Rebahan

Para simbah di kampung tidak terbiasa meminum air mineral yang tidak dimasak. Mereka bisa batuk-batuk setelah meminumnya. Mbah Parmi (nama samaran) adalah salah satu simbah yang masih rajin mendidihkan air dengan tungku dan kayu bakar. Kenapa tidak merebus air dengan kompor gas? Karena merebus air menggunakan gas akan meninggalkan rasa yang tidak sedap di lidah.

Bulan Juli tahun 2013 adalah pertama kalinya saya menginap di rumah Mbah Parmi setelah dewasa. Satu hal yang mengagetkan sekaligus membuat saya kagum, Beliau mulai merebus air jam 2 dini hari. Di saat kebanyakan orang masih terlelap dalam tidur yang panjang. Mbah Parmi menanak nasi dan memasak sayur serta lauk pauk setelah air mendidih di atas tungku. Lalu, Mbah Parmi mandi dan sarapan. Setelah merapikan rumah, Mbah Parmi menuju ke sawah untuk merawat tanaman padi. Mbah Parmi juga sering bekerja merawat sawah milik tetangga yang lain. Pulang dari sawah, Mbah Parmi biasa mencari kayu bakar. Menunggu sore tiba, Mbah Parmi akan mencabuti rumput yang semakin meninggi di pekarangan rumah beliau.

Saat sore tiba, Mbah Parmi kembali memasak air di tungku kesayangannya. Di sela-sela aktivitasnya yang padat, Mbah Parmi tidak lupa untuk melaksanakan sholat lima waktu. Beliau juga seringkali pergi ke masjid di waktu maghrib. Malam hari adalah waktu untuk beristirahat dan bercengkerama dengan Mbah Buyut (Ibunda Mbah Parmi).

Betapa padatnya aktivitas Mbah Parmi. Beliau memang tidak tamat SD, namun produktivitasnya bisa melebihi sarjana yang sudah belajar bertahun-tahun. Aktivitas Mbah Parmi yang padat merayap sangat bertentangan dengan realita kebanyakan anak muda saat ini. Anak-anak di jaman ni memang bisa sekolah dan menikmati fasilitas yang memadai. Namun, sungguh miris melihat anak-anak sekarang yang melewati hari-hari tanpa aktivitas yang berarti.

‘Kaum Rebahan’ adalah julukan yang sering digunakan untuk menyebut anak muda jaman sekarang. Mereka menggunakan waktu untuk melihat media sosial di sofa atau tempat tidur. Sungguh sangat berbeda dengan aktivitas Simbah pada zaman dahulu.Mbah Parmi adalah salah satu sosok yang kembali mengingatkan kita untuk mawas diri, bahwa dunia ini hanyalah sementara dan kita harus bisa memanfaatkan waktu di dunia untuk bekal kehidupan di akhirat kelak.

Hanya ada 3 hari yang tersisa di dunia ini: Kemarin yang tidak akan terulang lagi; hari esok yang belum tentu kita jumpai; dan hari ini yang harus kita jalani dengan sebaik-baiknya.

Dewi S

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *