Markipul. Nama ini saya gunakan sebagai tokoh utama dalam buku Bahagia yang Sederhana untuk memandu dan menyampaikan pesan. Masih ingat betul kalau buku ini ditulis di akhir tahun sebelum perhelatan milad Gaza ketiga. Walau pada akhirnya terbit pas dengan miladnya sekitar bulan Maret kalau tak salah.
Menulis buku dengan tema tasawuf memang tak bisa dilepaskan dari karya-karya yang sewaktu itu sedang saya baca. Di masa-masa itu saya begitu tertarik dengan karya-karya Imam al-Ghazali, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, dan Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Pesan-pesan lembut, jernih, dan cerdas dari buku itu sangat mengena.
Bahkan sampai sekarang kalau membutuhkan suatu nasehat, tak lupa saya buka tulisan Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Membaca kitab Fathur Robbani misalnya, seolah-olah kita sedang duduk bermajelis di depannya lalu mendengarkan nasehat lembutnya.
Namun entahlah, apakah buku-buku seperti ini masih didaras oleh anak zaman now, oleh anak milenial. Saya merasa kurang yakin. Kalau anak pesantren, tak perlu ditanya soal ini. Padahal terjemahan buku-buku ini terbilang sudah banyak. Kita tinggal mengakses saja ke marketplace dan selesai. Tunggu beberapa hari, sampai, lalu kita baca.
Hari ini saya merasa teringat kembali dengan Markipul dan tema tasawuf gegara di beranda facebook diramaikan bahasan kelompok tarikat yang bisa membaca nama ruh dan memasang tarif untuk semacam kafarat atau aqiqahnya. Saya agak lupa. Aneh memang. Tapi ya sudah, saya tak tahu menahu soal itu dan tak ingin mengetahuinya lebih dalam. Bagi saya yang awam, pasang standar menjalankan kewajiban dan menjauhi larangan itu sudah cukup. Ibadah yang bersifat sunnah sembari jalan dan terus belajar. Lah ini, malah ada nama-nama ruh lewat. Wah pusing kali hidup ini.
Jujur, hemat pribadi, yang paling penting dari tasawuf yakni mengenai tazkiyatun nafs (penyucian jiwa, perbaikan diri). Implikasinya ialah beradab kepada Allah ta’ala dan kepada sesama manusia. Istilahnya hablum minallah dan hablum minannas. Implikasi lainnya juga ada pada makna kebahagiaan, termasuk mengenai kemajuan. Sesuatu yang benar-benar dicari manusia tiada hentinya.
Tazkiyatun nafs menempati posisi perbaikan (diri) dalam skala terkecil sekaligus utama. Jika kita merujuk konsep iqomatuddin yang dikenalkan oleh Imam Hasan al-Banna, perbaikan diri adalah proyek pertama dari perbaikan global. Kalau perbaikan diri tak dapat dipenuhi, maka tingkatan di atasnya juga akan macet. Kira-kira begitu logika sederhananya. Kita juga sering mendengarnya sebagai jihad besar, yakni jihad melawan hawa nafsu.
Di hadapan kita, telah mendekat bulan Ramadhan. Suasana Ramadhan sejatinya begitu cocok untuk kita “rehat sejenak” atau “menepi”. Sangat cocok untuk mendidik diri. Tiga puluh hari bisa kita optimalkan untuk membuat suatu kebaisaan baru dalam perbaikan diri.
Tak lupa, termasuk belajar menulis. Selama tiga puluh hari ke depan, kalau mau serius kita pasti bisa. Kalau ada yang bertanya, apakah seri Markipul akan berlanjut. Nah, soal ini saya juga tak tahu. Kan semua tergantung dalangnya. Padahal, dalangnya ya saya sendiri. Ya ditunggu saja, tapi jangan terlalu berharap. []
Viki Adi Nugroho
