Kejadian ini sudah lama. Tetiba ada pesan whatsapp masuk dengan nomor baru. Kalau tak salah, ia menanyakan mengenai “menolong agama Allah” di dalam buku saya yang berjudul Serial Inspirasi. Ia juga memaparkan argumennya. Lalu saya jawab dengan ringkas saja. Ini seperti kejadian yang pernah viral di waktu lalu dan telah dijawab pula oleh banyak Kyai, Buya, atau para asatidz. Kita tidak perlu menguraikannya lebih jauh karena al-Qur’an memang sudah mengatakan demikian.
Adapun yang terakhir, ada pembaca juga yang menanyakan mengenai topik Tarbiyah di buku Pada Sebuah Bahtera Politik. Maklum, di buku itu saya memberikan saran dan masukan―bahkan bisa dianggap sebagai kritik―tentang strategi dakwah yang terlalu berat sebelah. Maksudnya ke arah strategi dakwah struktural. Akhirnya terjadi diskusi. Ternyata pikiran kita sama.
Hampir selalu begitu dan terjadi terus menerus, banyak pembaca yang sering bertanya mengenai tulisan yang ada di buku yang saya tulis. Itu wajar. Justru dari situ, saya banyak mendapatkan feedback. Saya mendapatkan banyak masukan. Dan tentu, saya bisa mengoreksi tulisan-tulisan saya agar lebih mudah dibaca oleh orang lain.
Nah, persoalannya begini. Jika kita selaku orang yang ingin menulis tetapi takut untuk mendapatkan “komentar” orang lain, justru pada nantinya kita hanya berjalan di tempat dan tak segera melangkah. Kita hanya ingin menulis tetapi hanya di angan-angan. Padahal, persoalan terbesar dalam menulis ya menulis itu sendiri. Membagikan tulisan kita kepada khalayak adalah salah satu cara untuk mengerti apakah tulisan kita sudah bisa dibaca orang lain atau belum, sudah mudah dipahami atau belum, dan sebagainya. Soal nanti ada yang komen ketus, anggap saja itu obat.
Jujur, saya termasuk orang yang kurang suka dengan komen ketus. Saya termasuk orang yang tidak suka jika ada ketidaksepakatan pendapat dalam tulisan tetapi ditolak dengan komentar ketus. Saya lebih suka cara yang elegan. Misalnya, dengan tulisan balik, atau jika bisa berkomunikasi langsung ya langsung obrolkan saja. Seperti para pembaca yang mengirim chat yang telah disebutkan di atas, itu lebih baik.
Sekarang, jika merasa kurang percaya diri dengan tulisan kita sendiri, solusinya memang mebagikannya ke khalayak. Misal dengan membagikannya di facebook. Kalau punya komunitas menulis mungkin akan lebih mudah, kita bisa berkomunikasi dengan para mentornya terlebih dahulu. Meski menurut saya pribadi, bagikan saja dulu. Namanya saja proses belajar.
Itu adalah pengalaman saya selama ini. Nyatanya, saya yang sudah menulis buku saja masih harus terus belajar untuk mengkomunikasikan tulisan yang lebih mudah dipahami pembaca. Sederhananya, jika kita sedang belajar menulis, komentar-komentar itu pasti akan ada. Komuniaksi dengan para pembaca pasti ada. Itu memang sudah begitu dari sananya. Kalau kita tidak segera untuk mengambil posisi, yakni segera menulis dan membagikannya, tentu bayang-bayang keraguan juga tak akan pernah hilang. []
Viki Adi Nugroho
