Dalam buku berjudul “Tumbuh” karya Fatima Musawa, ada sebuah bab yang bahasanya ringan tetapi cukup membekas untuk direnungi kembali. Bab itu berada di bagian 9 dengan tema “Rasa yang menjadi indah.” Di paragraf keenam, ia mengatakan, “Air mata adalah pelipur lara, dapat menangis dalam kepasrahan adalah hal termanis yang saya rasakan, saya tidak tahu bagaimana orang tidak suka terhadap air mata, saya heran melihat orang yang bangga karena ia tidak menangis.”
Kalimat tersebut mungkin bagi beberapa orang terkesan subjektif. Namun bagi saya, kalimat tersebut bermakna sangat dalam dan teduh. Saya sepakat dengan hal itu karena mengimani bahwa air mata yang jatuh karena takut dengan kemurkaan Allah merupakan tanda masih adanya secuil iman. Sebuah rahmat yang teramat sangat berharga di zaman yang semakin ‘menggila’ ini.
Tidak semua manusia diberi kesempatan untuk berdua dengan Allah, mengadukan segala keluh kesah kepada-Nya, mengakui kelemahan dan dosa-dosa yang masih sangat banyak, hingga kerasnya hati runtuh dengan keluarnya air mata. Hal itu merupakan hal yang menyesakkan sekaligus melegakan. Sesak karena begitu besar cinta-Nya kepada semua makhluk, namun kita sering kali lalai. Lega atas hadirnya ketenangan disaat kita telah mengeluarkan segala yang terpikirkan kepadaNya.
Dalam hadis riwayat Muslim nomor 2359, Rasulullah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Surga serta neraka ditampakkan kepadaku, maka aku tidak melihat tentang kebaikan dan keburukan seperti hari ini. Seandainya kamu mengetahui apa yang aku ketahui, kamu benar-benar akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” Dalam hal ini, Anas bin Malik –perawi hadis ini mengatakan, “Tidaklah ada satu hari pun yang lebih berat bagi para sahabat selain hari itu. Mereka menutupi kepala mereka sambil menangis sesenggukan.”
Selama masih hidup di dunia, pada dasarnya kita sebagai makhluk ciptaan-Nya dianjurkan untuk tidak banyak tertawa dan justru lebih banyak bermuhasabah diri. Sebab, perkara menangis karena meminta ampunan dan pertolongan untuk diteguhkan dalam jalan ketaatan adalah bukti kelembutan hati Rasulullah, para sahabat dan orang-orang shalih terdahulu. Jika mereka yang tergolong orang mulia dan sudah dijamin surga kerap menangis dan mengadu kepada Allah, lantas bagaimana dengan kita yang dhoif ini? Sudahkah air mata yang jatuh kita anggap sebagai pelipur lara di tengah kompleksitas dunia? Mari kita renungkan.
Sarah Az Zahra
