Tulisan ini terinspirasi dari salah satu postingan di media sosial yang membahas sekilas perihal usia. Topik tersebut sempat menambah keresahan saya setiap malam. Memikirkan bagaimana diri terlalu sibuk berjibaku menyusun rencana untuk fase usia yang katanya sudah tidak belia, namun sering kali lupa bahwa ada orang terkasih yang juga mengalami fase lain di dalam hidupnya. Sadarkah, orang tua kita semakin menua disaat kita telah merasa bahwa diri semakin mendewasa.
Waktu yang telah terlewati tak bisa kembali terulang dan diputar kembali sekehendak hati. Jika kesadaran itu sudah aktif, saat ini, yang bisa dilakukan adalah berbakti. Tak cukup hanya merasa sudah melakukan banyak hal kepada orang tua kita lantas menganggap diri sudah mencapai derajat berbakti. Akan tetapi, berbakti dalam konteks ini adalah konsistensi melakukan kebaikan-kebaikan yang tulus dan berkelanjutan hingga titik darah penghabisan.
Kedengarannya kok berat, ya? Tentu berat. Amanah mencari bekal akhirat itu berat di dunia, namun meringankan kita untuk masuk ke dalam surga. Tentu saja ini merupakan PR kita semua. Selagi mereka (orang tua kandung) masih ada, jagalah, sayangilah, doakanlah semaksimal yang diri kita bisa. Jika lupa, ingat-ingat lagi dahulu kita yang lemah, belum mengenal kata, belum mampu berbicara, makan, minum, buang hajat sendiri belum bisa, atas izin Allah, siapa yang mengajari? Mereka, cinta pertama kita di dunia, Ibu dan Bapak, Umi dan Abi, Bunda dan Ayah, Mama dan Papa kita.
Pada hadis riwayat Imam Ahmad dan hadis ini hasan, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Orang tua merupakan pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu, atau kalian bisa menjaganya.” Semoga Allah senantiasa meliputi mereka dalam keberkahan, kebaikan dunia, dan akhirat serta sehat yang bermanfaat. Rabbighfirlii waliwalidayya warhamhum kamaa rabbayani shoghiro.
Sarah Az Zahra
