Kalau di bahasan-bahasan sebelumnya disebutkan bahwa cara paling mudah menulis adalah mengungkapkan apa yang ada di isi hati dan kepala (baca: curhat), ternyata masih ada cara lain yang bisa dipakai untuk memantik apa yang akan kita tulis. Ialah menulis pengalaman.
Menulis pengalaman adalah salah satu hal yang paling mudah untuk dilakukan jika kita adalah penulis baru. Kalian tak perlu pusing tujuh keliling memikirkan daftar pustaka layaknya karya ilmiah. Mungkin, sesekali butuh mengutip pendapat tokoh atau referensi buku atau data penelitian, semisal ingin menguatkan opini di dalamnya. Namun tak memakainya juga tak masalah. Toh, pengalaman yang ditulis bisa menjadi bukti empiris tersendiri.
Misalnya begini, kalian pernah mendengar seseorang yang ketipu akibat memberikan OTP akun m-banking misalnya? Kita tidak tahu siapa orang yang pertama kali ketipu di Indonesia. Tapi bisa dipastikan orang tersebut akan melaporkan ke polisi, ia akan bercerita di sana. Nah, cerita itu kemudian oleh pihak polisi dan pihak bank akan digunakan untuk pengantisipasian penipuan selanjutnya dengan cara menuliskannya di official web bank, sosial media, apps mobile bank, akun humas kepolisian, dan sebagainya. Itu dari pihak bank dan kepolisian yang menuliskannya. Belum lagi kalau orang yang ketipu tadi menuliskan “pengalaman pribadinya” itu di media sosial. Pasti akan sangat bermanfaat bagi orang lain, meskipun ia begitu sedih ketika menuliskannya. Kecuali dia Sultan yang memiliki puluhan rekening dan asetnya ada dimana-mana. Kalau ini tak perlu ditanya.
Jadi kalau kalian masih bingung untuk memantik ide menulis, cobalah cara ini.
Misalnya kalian adalah aktivis (sosial) perempuan, kalian mencoba melakukan survei terhadap beberapa indikator pemikiran feminisme yang kadang terlihat “indah” kemudian membandingkannya dengan pandangan Islam kepada para mahasiswi. Ternyata hasilnya berkebalikan dan di luar harapan. Lalu kalian mencoba menuliskan pengalaman itu lalu membagikannya ke sesama aktivis lainnya. Akhirnya dari situ kalian mencoba untuk mencari solusinya agar pemikiran para mahasiswi bisa berangsur-angsur berubah.
Saya yakin kalian memiliki pengalaman yang berbeda-beda dan begitu banyak. Dari mulai keluarga, pendidikan, pekerjaan, aktivitas, hobi, perjalanan, sosial, budaya, hingga persoalan sepak bola Indonesia. Bahkan, persoalan receh dan remeh temeh juga banyak.
Misalnya lagi, kalian adalah seorang guru. Saya yakin di setiap harinya kalian akan menemui pengalaman yang berbeda-beda, apalagi jika kalian memiliki jadwal padat dan mengajar kelas begitu banyak. Semua pengalaman dalam mengajar dan mendidik itu akan terlalu sayang untuk dilewatkan jika tidak ditulis. Soal bagaimana cara mendidik, soal bagaimana cara mengajarkan, soal mendisiplinkan, soal mengarahkan, soal mengajak dialog, soal kamar mandi, soal perpustakaan, soal kebijakan pendidikan, soal kurikulum, soal tenaga honorer, dan lain sebagainya.
Nah, sekarang tak perlu bingung lagi. Setiap detik berlalu, berlalu pula pengalaman kita. Di setiap harinya, kita bisa memilah dan memilih mana pengalaman yang akan kita tulis. []
Viki Adi N
