Istilah stuck atau hang ternyata tak melulu identik dengan gawai. Terkadang karena pikiran kita traveling kemana-mana, di tengah perjalanan menulis apa yang disebut hang atau stuck terjadi. Sudah sampai mana? Loh, tadi mau nulis apa? Kok malah berubah arah?
Sebenarnya ini wajar terjadi, khususnya bagi kita yang sedang terus belajar dan membiasakan menulis. Saya juga terkadang masih mengalaminya. Namun kalian tidak perlu khawatir, pada kesempatan ini saya ingin sedikit berbagi pengalaman mengenai soal ini.
Pertama, stuck atau berhenti pada ide. Kalau soal ini, beberapa tulisan sebelumnya sudah membahasnya. Tidak adanya ide untuk menulis adalah persoalan krusial. Kalau menulis disebut-sebut sebagai pengeluaran pikiran, emosi, ide, gagasan, kegelisahan, lalu kita stuck, apa jangan-jangan kita sedang tidak memiliki kesemua hal itu? Saya rasa tidak mungkin orang tidak memilikinya. Bahkan ketika kalian sedang bingung, sebenarnya kebingungan itu juga bisa ditulis dan akhirnya menjadi tulisan mengenai kebingungan. Bukankah itu luapan emosi yang tertuang dalam bentuk tulisan?
Soal stuck yang pertama ini, ada beberapa alternatif untuk memantik. Misalnya menulis pengalaman, menulis apa yang sedang menjadi masalah pada diri sendiri, curhat, menulis persoalan sekitar yang kita tahu bahkan sampai yang kita tidak tahu, dan lain sebagainya. Intinya semua di sekitar kita bisa menjadi sumur yang siap ditimba.
Kedua, apa yang terlupa. Bagi kalian yang merasa sudah kepikiran mau menulisken ide apa, tetapi masih disibukkan dengan pekerjaan atau aktivitas lainnya, akhirnya menunda untuk menuliskannya dan berakhir dengan terlupanya ide yang akan ditulis, cobalah kiat ini! Tuliskan saja semua ide yang muncul di kepala meski kalian sedang beraktivitas atau bekerja pada media apa saja yang memungkinkan. Atau selipkan pena kecil dan buku kecil, bisa juga sticky notes di saku ketika sedang beraktivitas sehari-hari jika memungkinkan. Ketika ada ide muncul, tuliskan ide utama di sana dulu sembari beraktivitas atau bekerja. Setelah selesai bekerja dan pulang ke rumah, ide yang tadi telah dicatat segera di eksekusi menjadi sebuah tulisan. Sebenarnya kalau pekerjaan kalian dekat dengan gawai atau gadget mungkin akan lebih mudah, tinggal catat saja di smartphone.
Ketiga, hang di tengah jalan. Misalnya kita sedang menulis dan sudah mencapai beberapa paragraf, lalu buyar atau hilang. Kita merasa ingin menuliskan sesuatu tetapi lupa apa yang akan ditulis. Kondisi selanjutnya kita sudah menuliskan apa yang akan kita tulis tetapi merasa kalau masih ada yang kurang. Kita pun bingung apa yang sebenarnya masih kurang?
Nah, menegnai hal ini sebenarnya ada satu kiat yang bisa dipakai. Memang kiat ini adalah cara yang bisa digunakan untuk orang yang masih belajar dan mencoba membiasakan menulis. Bagi orang yang sudah pro, biasanya men-skip langkah atau kiat ini. Jadi, apa triknya? Tuliskan point-point utama yang akan dijelaskan. Bukankah ini sesuatu yang sederhana?
Misalnya, kita akan menulis tentang refleksi kemerdekaan Indonesia. Sebelum mengalirkan tulisan, kita perlu menyusun apa point-point utama yang akan dijabarkan. Misalnya secara urut kita akan menjelaskan beberapa hal ini: makna kemerdekaan, kemerdekaan diraih dengan perjuangan, apa yang harus dilakukan generasi sekarang, benarkah kita sudah merdeka, dan lain sebagainya. Setelah point-point utama ditentukan, segera saja tuliskan penjabarannya―bagi yang ingin menyiapkan bahan atau referensi juga bisa disiapkan di langkah ini. Dengan cara demikian, persoalan yang ketiga ini bisa diminimalisir.
Mungkin itu kiat sederhana yang bisa kita lakukan ketika terjadi hang atau stuck. Semua orang yang sekarang pro, ternyata mereka juga mengawali karirnya sebagai amatir. Nah, karena kita masih amatir, mencoba dan terus berlatih adalah cara terbaik yang bisa dilakukan saat ini. []
Viki Adi N
