Ada berbagai cara dan media yang digunakan untuk menyebarkan kebaikan secara umum atau dakwah secara khususnya. Salah satunya melalui media. Zaman dahulu, orang bisa terkenal dengan capaian-capaian yang diraih. Tentu saja faktor utamanya adalah teknologi komunikasi belum secanggih saat ini, yang dulunya mengandalkan berita dari surat yang harus diantar dengan kuda atau “getok tular”nya para pembawa kabar sehingga ada jeda waktu yang dibutuhkan agar pesan tersebut sampai kepada khalayak. Berbeda dengan sekarang yang mana media sudah sangat mudah ditemukan bahkan kabar dari antartika bisa sampai ke Australia dalam kurun waktu singkat dan sangat menghemat biaya. Tapi satu hal yang pasti, teknologi adalah alat, dan alat akan memiliki nilai tergantung dari siapa pemakai alat tersebut.
Mudahnya mengakses media dan menyebarkan berbagai hal di banyak platform sekarang ini bagaikan pisau bermata dua. Ketika pemakai adalah seseorang yang “kaget” dengan teknologi, maka yang terjadi adalah seperti fenomena OKB (Orang Kaya Baru), sifat yang muncul adalah budaya pamer sana-sini. Ketika di kontekskan ke media yang terjadi adalah mudahnya menyebarkan berita sehingga banyak kita temui berita palsu atau hoaks yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Namun lain halnya saat teknologi itu dipegang oleh orang yang setidaknya mau belajar agar tidak kaget ataupun gagap dalam pemakaian perangkat-perangkat baru, media itu bahkan bisa menjadi ladang ilmu maupun ladang ekonomi baru bagi mereka.
Karena kemudahan media sosial sekarang ini, muncul banyak akun menggunakan nama pribadi maupun merk yang dibawa. Mulai dari konten edukasi hingga komedi, semuanya berlomba untuk mendapat perhatian paling banyak atau setidaknya sudah menggapai target audiens. Ada istilah baru yang muncul ketika sosial media ramai, yaitu influencer; seseorang tokoh yang menjadi rujukan para pengguna media sosial. Segala perbuatan dan rekomendasi akan selalu menjadi acuan utama bagi para penggemarnya. Tak terkecuali para influencer muslim dan para pendakwah media.
Salah satu ujian yang pasti dihadapi oleh kreator adalah popularitas. Ketika seseorang sudah muncul di publik dan banyak pengikutnya, menjadi terkenal tidak bisa dihindarkan. Sikap ke-aku-an, ingin dikenal, menjadi legenda, dan sikap-sikap egosentris lainnya pasti muncul. Karena ketika seseorang sudah menjadi tokoh, segala sisi kehidupannya akan menjadi pembicaraan. Konsekuensi yang harusnya sudah siap dihadapi oleh influencer. Tentu saja tidak masalah ketika yang selalu dibagikan di media adalah hal-hal yang baik dan bisa dipertanggungjawabkan. Terkenal adalah hal baik ketika bisa dimanfaatkan dengan bijak. Namun ketika ketokohan seorang influencer menjadikan pengikutnya taqlid buta, itu menjadi hal yang berbahaya.
Yugana F S 21/11/21
