Bayangan sebagain orang tentang menulis itu layaknya menyusun pasal demi pasal, bab demi bab, terstruktur formal, dan sebagainya. Bayangannya itu jatuh pada karya ilmiah. Padahal, karya ilmiah hanyalah salah satu dari sekian banyak apa yang bisa ditulis.
Di era media sosial, sebenarnya saya mendapati banyak sekali muda-mudi milenial yang mampu mengeluarkan kata-katanya, dari yang puitis, serius, sampai yang buaya. Pendek-pendek memang, tetapi apa yang ditulisnya biasanya mengungkapkan apa yang sedang dirasa, dipikirkan dan sebagainya.
Nah, dari situlah sebenarnya kita tahu bahwa semua orang itu bisa menulis. Paling mudah ialah menuliskan keresahannya, kegelisahannya, perasaannya, dan segala macam hal yang sedang ia rasakan. Mungkin orang pada umumnya menyebut dengan kata: curhat.
Dari tumpahan pikiran, ide, perasaan, keresahan, kegelisahan, mengalirlah tulisan. Ada yang berwujud esai, ada yang berwujud puisi, ada yang berwujud cerita pendek, dan lain sebagainya.
Artinya, anggapan menulis yang terlalu formal di sebagian publik sudah gugur di sini. Kita semua bisa memulai sekarang dan menuliskan apa saja yang kita mau. Kalau tak punya pena dan kertas, gawai yang dipegang pun jadi.
Tugas selanjutnya adalah membiasakannya. Menulis secara terus menerus, mengungkap apa yang dipikir dan dirasa. Coba lihatlah karya-karya Buya Hamka, hampir setiap catatan perjalanan hidupnya selalu direkam dengan tulisan. Dari yang sangat seirus sampai catatan-catatan yang membahas tentang travelling-nya.
Bayangkan saja kita bisa seperti Buya, bisa dipastikan kita akan memiliki buku yang ditulis diri sendiri begitu banyaknya dengan beragam tema. Sayangnya, kita sendiri kerapkali merasa minder untuk menuliskan apa yang menjadi kegelisahan dan keresahan kita sendiri.
Siapa sangka, tulisan seorang keluarga yang melihat seorang bayi meninggal dunia karena tidak ditangani bidan dan dokter di Puskesmas pasca melahirkan (mal praktek) menjadi viral di jagad maya dan akhirnya membuat bupati serta dinas kesehatan harus tersengal-sengal turun tangan. Begitu banyaknya tulisan-tulisan sederhana yang dibagikan akhirnya mampu memberikan pelajaran di sekitar. []
Viki Adi Nugroho
