Mencoba Tradisionalis

Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan, manusia seakan semakin dimanjakan. Bagaimana tidak? Teknologi sekarang bisa didapatkan dengan mudah dan murah, hampir tak ada satupun orang di dunia ini yang tak mengerti gawai. Mengikuti perkembangan dunia saat ini memanglah penting, namun terkadang kita lupa dengan suatu hal yang lebih fundamental yaitu dunia nyata. Media sosial dari tahun ke tahun semakin beragam dan sangat banyak jumlahnya. Di satu sisi, menghubungkan yang jauh semakin mudah, akan tetapi efek lainnya adalah yang dekat semakin menjauh di dunia nyata.

Kita sudah “dijajah” secara tidak sadar, waktu kita habiskan hanya untuk membuka dan mencari jejaring pertemanan di media sosial, semakin banyak akun di media yang berbeda, semakin banyak pula waktu yang terpakai untuk membuka atau sekedar tahu “ada apa hari ini?”. pikiran kita dipenuhi informasi-informasi yang sebenarnya kita tidak tahu pun tidak ada masalah. Bagaikan rekening gendut, otak kita kebanjiran informasi. Hal-hal yang tidak penting pun memenuhi pikiran kita, semua jejaring yang terhubung dengan kita selalu memberikan informasi yang berbeda satu sama lain. Mengetahui kabar orang lain melalui media sosial bukanlah hal yang buruk, namun karena beragamnya setiap postingan akun di media sosial itu membuat kita candu, hampir tiap waktu tak ada kata tidak sempat untuk membuka media sosial. Jari-jari kita seakan terkena sihir, waktu senggang, bangun tidur hingga akan tidur lagi selalu ada waktu untuk membuka media sosial. Otak kita telah dijajah, lebih penting untuk memperbarui kabar di media sosial daripada menyapa secara langsung tetangga samping rumah. Diri kita semakin jauh dari makna ber-sosial yang sebenarnya.

Padahal kita semua tahu bahwa tidak begitu kebiasaan para tauladan kita. Dari para nabi hingga ulama ter-masyhur tidak disibukkan dengan hal-hal yang tidak penting dan tidak bermanfaat. Mereka semua menghabiskan waktu untuk belajar, menuntut ilmu hingga ke tempat terjauh, atau sesederhana berdzikir dan merenungi kebesaran-Nya. Mungkin ketika zaman dahulu sudah ada media sosial pun para ulama tak akan mengeluhkan lelahnya mencari ilmu demi kebenaran yang sebenarnya.

Ketika waktu senggang pun para ulama menggunakan waktunya untuk mengulang atau murojaah ilmu maupun hafalan yang dimiliki. Dan lihat diri kita sekarang, kebiasaan baik kita terkikis dari waktu ke waktu. Lingkungan kita sebagian besar juga sudah tidak bisa menghilangkan kebiasaan untuk selalu update di dunia maya. Kita lupa untuk kembali membuka buku-buku yang mulai berdebu, kita lupa untuk kembali membaca dan merenungi kalam-Nya. Kita lupa dan semakin jauh untuk mengingat-Nya.

Selama nyawa belum sampai kerongkongan, selama matahari masih terbit dari timur. Tak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik. Sejarah sudah mengajarkan bahwa sebagai muslim, seyogyanya mempernyak hal bermanfaat dibandingkan membuang waktu di media sosial. Mungkin waktu senggang kita bisa kita pakai untuk membaca buku atau sekedar berdzikir. Tentu saja hal tersebut tidak bisa langsung berubah secara ekstrim. Pelan dan bertahap. Mulai dari menyusun prioritas setiap hari, manajemen diri dan menahan untuk tidak berlama-lama menatap layar.
Tulisan ini tentu saja bukan untuk menghakimi para aktifis sosial media sosial, jikalau memang aktifnya di dunia maya untuk mencari rezeki maupun menyebarkan hikmah itu sudah menjadi hal lain.
Niat baik akan selalu dimudahkan, bagaimanapun bentuk dan caranya.

Yugana Firda Syu’ari 7/9/21

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *