Seringkali orang bertanya kepada saya bagaimana cara menulis, bagaimana memulai menulis, ide apa yang harus diambil, apa tulisan itu layak dibaca publik, dan lain sebagainya. Pertama, ada soal ketidakpercayaan diri. Kedua, ada soal kemampuan (skill). Dua hal ini yang perlu diselesaikan ketika kita ingin (belajar) menulis.
Pertama, soal ketidakpercayaan diri. Soal ini bisa berkaitan dengan ilmu, referensi yang dimiliki, tujuan dan orientasi, serta kepentingan. Soal ilmu dan referensi untuk tulisan, sebenarnya calon penulis bisa menggali dalam banyak tempat. Dunia yang sudah serba dekat seperti ini sebenarnya cukup memudahkan. Semisal saja ingin membeli buku yang diterbitkan di lain pulau, itu saking mudahnya sekarang untuk diakses. Soal kajian, seminar, atau sejenisnya misalnya, juga tak kalah banyaknya. Apalagi hampir semua webinar (online). Kita tidak perlu bersusah payah berjalan kaki atau mencari kendaraan untuk menuju kesana seperti di masa sebelum wabah menimpa. Jadi, “membaca” juga menjadi bagian penting dari proses menulis. Entah itu membaca buku, membaca realitas, membaca dalam arti mengkaji, dan sebagainya.
Berkaitan dengan tujuan, orientasi, dan kepentingan bisa juga berpengaruh. Jika orientasi orang menulis adalah bagian dari amar ma’ruf nahy munkar, bisa dipastikan ia akan lebih bersemangat. Semisal lagi, jika orientasi penulis adalah mendapatkan uang yang banyak, itu juga memungkinkan dia untuk terus memperbaiki kualitas tulisannya dan semakin membuatnya berdarah-darah berjuang menampilkan tulisan apik ke publik. Misalnya lagi, untuk membuat sebuah propoganda politik, tulisan juga bisa dijadikan salah satu cara. Mungkin hari ini, kerjaan buzzer ya begituan. Itu contoh saja.
Artinya, tujuan, orientasi, atau kepentingan harus dimiliki oleh penulis. Itu hemat saya. Meski seolah-olah tak ada kepentingan—semisal saja kalian menulis catatan harian—tapi pada faktanya kalian memiliki kepentingan dan tujuan menuliskan catatan harian tersebut, meski hanya kalian yang tahu.
Adapun soal membagikan tulisan—semisal di media sosial, menurut saya hal ini penting. Dari situlah kita akan mendapatkan banyak masukan dari pembaca. Yang paling penting, jangan baper. Yakini saja bahwa ini adalah proses belajar. Kesalahan itu wajar. Kalau kalian punya guru atau mentor atau komunitas menulis, barangkali itu lebih bagus. Tetapi itu juga tak akan mempunyai dampak kalau kalian hanya diam menjadi “silent reader” tanpa terlibat aktif dalam praktek menulis.
Kedua, soal kemampuan. Dulu saya mengira bahwa membaca dan menulis hanyalah aktivitas orang “pintar”. Tetapi seiring berjalannya waktu, perkiraan itu salah. Membaca dan menulis itu adalah kemampuan yang bisa dipelajari layaknya orang berbicara. Bedanya, kalau berbicara itu sudah dilatih sejak kecil bahkan semenjak “alam sadar” kita belum aktif sedangkan membaca dan menulis dilatih di masa kemudian. Artinya menulis itu bisa dilatih. Itulah mengapa saya menyebutnya kemampuan (skill). Menulis bisa dilatih dan itu butuh waktu. Membuat kebiasaan (habbits) menulis itu adalah keniscayaan bagi seorang calon penulis. Dengannya, kemampuan akan terus terlatih sedikit demi sedikit. Bacaan yang kaya dan beragam juga akan meningkatkan kemampuan. Semisal membaca buku-buku yang berbeda gaya bahasa dan penyajiannya, itu juga akan membantu dalam peningkatan kemampuan. Bahkan akan membantu menemukan gaya tulisan sendiri. Makanya di sekolah-sekolah atau madrasah-madrasah pasti ada pelajaran menulis atau mengarang. Nah, mungkin soal porsi yang membedakannya.
Dulu, saya pernah membeli buku berjudul Buku Catatan untuk Calon Penulis karya Puthut EA. Isinya tak disangka, sebagian besar ialah lembar-lembar kosong. Ya begitulah menulis, isilah lembar-lembar kosong itu. Sekarang, ambil pena dan kertas di sekitarmu, mulailah menulis. Oh maaf, kalau kalian tak punya, ambil saja gawaimu, tuliskan di situ. []
Viki Adi N
