Pelajaran dari Thaliban

Setelah Thaliban menguasai (kembali) Afghanistan, beragam analisis dari pengamat Timur Tengah, politik, hubungan internasional, sampai para netizen bermunculan. Dari yang mulai cemas akan kebangkitan terorisme sampai yang berharap pada adanya gerakan Islam Sunni sukses yang memimpin negara. Semua ada, warna-warni pula.

Terlepas dari itu semua—sebagai orang yang mencoba melihatnya tanpa tendensius apapun—saya melihat ada beberapa hal yang perlu kita cermati.

Pertama, soal persepsi tentang Thaliban. Soal siapa Thaliban dan bagaimana kiprahnya kita perlu tahu. Tetapi tulisan ini tak akan mengulasnya. Yang jelas, sesuai pernyataan mereka sendiri—pasca menguasai Afghanistan—Thaliban tidak akan menggunakan cara kekerasan seperti masa dahulu memimpin. Ini yang perlu diapresiasi jika itu memang benar dan kementerian luar negeri Indonesia bersama negara-negara lain harus terlibat aktif dalam persoalan ini. Bukan soal campur tangan akan negara lain, tetapi agar bagaimana perdamaian dunia dan HAM tetap terjaga.

Kedua, soal isu terorisme. Ketika Thaliban menguasai Afghanistan dahulu, Amerika memang menjadikannya sebagai kelompok teroris. Atas nama terorisme—sebagai tindak lanjut dari peristiwa WTC—Amerika menduduki dan menggulingkannya. Jadi isu terorisme yang ditujukan pada gerakan Islam itu memang nyata dibuat dan sebenarnya itu adalah isu lama. Kalau kalian mau mengatakan basi juga silakan. Kita memang tidak setuju dengan aksi-aksi terorisme dalam bentuk apapun, tidak hanya yang menyemat pada label agama saja. Itu jelas. Tetapi men-generalisir semua kelompok agama—baik perkumpulan, ormas maupun parpol Islam—sebagai teroris juga tidak bisa dibenarkan. Tak apa, BIN, BPIP, dan lembaga sejenisnya khawatir akan kebangkitan teroris di Indonesia akibat efek kemenangan Thaliban. Namun jangan sampai cap tak baik itu dialamatkan kepada seluruh kelompok Islam di Indonesia, bahkan termasuk kelompok hijrah misalnya. Kita adalah negara Muslim terbesar di dunia. Yang namanya kelompok Islam pasti sangat beragam dan begitu banyak jumlahnya. Kita selaku pribadi Muslim juga harus terus belajar. Kita harus terus menampilkan Islam sebagaimana Islam itu sendiri, yakni agama yang teduh. Proses “radikalisasi” dalam diri seorang Muslim sejatinya bisa karena banyak faktor. Tetapi faktor ilmu barangkali yang terbesar.

Ketiga, soal hengkangnya Amerika. Sebenarnya, Amerika bisa saja menggempur Thaliban dengan memerintahkan banyak negara “koalisi”-nya atas nama terorisme ataupun atas nama demokrasi. Itu bisa saja. Namun, Amerika lebih memilih untuk menarik semua pasukannya. Mengapa itu bisa terjadi? Nah, soal ini sepertinya kita harus melihat sisi lain. Amerika sedang mengalami persoalan internal di negaranya, apalagi semenjak badai covid berlangsung, ekonomi benar-benar terdampak. Selain itu, faktor China juga tak kalah pentingnya. Secara eksternal, kini Amerika sudah mulai menarik dan mengurangi “perang” dan melirik China. Kalau dibiarkan, China bisa lebih menghegemoni dari pada Amerika. Mungkin begitu pikirnya.

Keempat, soal gerakan Islam mengelola negara. Siapapun yang mengelola negara sebenarnya tak akan pernah lepas dari kritik. Penguasa akan mendapat pujian jikalau mereka mampu memberikan keadilan kepada seluruh elemen, kebijakannya yang pro rakyat, meningkatkan kesejahteraan rakyatnya sampai pada kalangan bawah, memberikan perlindungan keamanan, tidak korup, dan adanya kebebasan. Pertanyaannya, apakah Thaliban bisa menyelesaikan persoalan itu semua? Nah, itulah jawaban yang ditunggu. Jika Thaliban berhasil, maka cap gerakan Islam akan mendapat pujian. Berlaku juga sebaliknya, jika ia gagal, maka cap “sama saja” akan bertebaran dimana-mana. Maksudnya “sama saja” antara negara yang dipimpin gerakan Islam dengan yang dipimpin oleh kelompok lainnya. Namun, itu hanya persepsi. Yang paling penting dari itu semua, kita tidak boleh men-generalisirnya. Kalau saja nanti Thaliban gagal, bukan berarti gerakan, ormas, ataupun parpol Islam tak bisa memimpin negara, begitu juga sebaliknya. Artinya, euforianya jangan kebablasan.

Kelima, gerakan Islam di Indonesia. Di tulisan yang lalu saya pernah mengatakan bahwa gerakan Islam di Indonesia sejatinya lebih dewasa berkaitan dengan soal politik. Alam demokrasi yang dianut oleh negara kita sejatinya telah memberikan kebebasan gerakan untuk beriringan membangun bangsa dan negara tanpa harus menggunakan cara-cara revolusi dan kekerasan. Dan inilah pilihan yang paling baik, yakni ketika nasionalisme berpadu dengan semangat religius. Para tokoh bangsa kita telah mencontohkan perjuangan bagaimana nilai-nilai Islam masuk ke dalam negara melalui cara-cara yang konstitusional. HOS Tjokroaminoto, Agus Salim, Natsir, Hamka, Kasman, Sjafruddin, Roem, Soedirman, dan tokoh-tokoh bangsa lainnya bisa menjadi contoh dalam hal ini.

Barangkali itu adalah pandangan dari orang yang kurang kerjaan ini. Tolong jangan dipercaya sepenuhnya. []

Viki Adi Nugroho

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *